Dalam informasi itu, dijelaskan konjungsi akan terjadi pada Sabtu, 16 Mei 2026 M, pukul 20.00.55 UT atau Ahad, 17 Mei 2026 M, pukul 03.00.55 WIB atau Ahad, 17 Mei 2026 M, pukul 04.00.55 Wita atau Ahad, 17 Mei 2026 M, pukul 05.00.55 WIT.
Di wilayah Indonesia pada 17 Mei 2026, waktu Matahari terbenam paling awal adalah pukul 17.26.20 WIT di Merauke, Papua dan waktu Matahari terbenam paling akhir adalah pukul 18.46.59 WIB di Sabang, Aceh. Dengan memperhatikan waktu konjungsi dan Matahari terbenam, dapat dikatakan konjungsi terjadi sebelum Matahari terbenam tanggal 17 Mei 2026 di wilayah Indonesia.
Ketinggian Hilal di Indonesia saat matahari terbenam pada 17 Mei 2026, berkisar antara 3.29 derajat di Merauke, Papua sampai dengan 6.95 derajat di Sabang, Aceh. Sementara itu, besaran elongasi geosentris di Indonesia saat matahari terbenam pada 17 Mei 2026, berkisar antara 8.91 derajat di Merauke, Papua sampai 10.62 derajat di Sabang, Aceh.
Data BMKG juga menunjukkan umur bulan di Indonesia saat matahari terbenam pada 17 Mei 2026, berkisar antara 12.42 jam di Merauke, Papua sampai dengan 15.77 jam di Sabang, Aceh. Adapun lama hilal di atas ufuk saat Matahari terbenam pada 17 Mei 2026, berkisar antara 18.42 menit di Merauke, Papua sampai dengan 35.8 menit di Sabang, Aceh.
“Data-data di atas menunjukkan potensi besar bulan Zulhijah jatuh esoknya mengingat sudah terpenuhinya kriteria imkanur rukyah, bahkan qath'iy rukyah. Karenanya, besar kemungkinan tanggal 1 Zulhijah 1447 H jatuh pada Senin Kliwon, 18 Mei 2026. Sementara Iduladha, 10 Zulhijah 1447 H akan jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026 M,” katanya.
Sementara itu, PP Muhammadiyah berdasarkan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) telah menetapkan Iduladha 1447 H akan jatuh pada 27 Mei 2026. Meski begitu, masyarakat tetap diminta untuk menunggu sidang isbat yang digelar Kementerian Agama (Kemenag) pada Minggu, 17 Mei 2026.
(Erha Aprili Ramadhoni)