Tiga Fondasi yang Harus Diperkuat
Ke depan, saya meyakini keberhasilan MBG sangat bergantung pada tiga fondasi utama. Pertama, transparansi dan akuntabilitas pengelolaan anggaran. Seluruh proses pengadaan, distribusi, dan penggunaan anggaran harus dapat diawasi secara terbuka sehingga masyarakat memiliki keyakinan bahwa setiap rupiah benar-benar digunakan untuk kepentingan penerima manfaat.
Kedua, penguatan sistem keamanan pangan. Setiap dapur MBG harus memenuhi standar higiene dan sanitasi yang jelas, didukung mekanisme pengawasan berkala, audit mutu, serta prosedur respons cepat apabila terjadi insiden di lapangan.
Ketiga, pelibatan tenaga gizi dan kesehatan masyarakat secara lebih sistematis. Program gizi berskala nasional harus berbasis bukti ilmiah, mulai dari penyusunan menu, penghitungan kebutuhan gizi, evaluasi kualitas layanan, hingga pengukuran dampak kesehatan yang dihasilkan.
Lebih dari Sekadar Membagikan Makanan
Pada akhirnya, keberhasilan MBG tidak boleh hanya diukur dari berapa juta porsi makanan yang berhasil dibagikan setiap hari. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika program ini mampu memperbaiki status gizi anak Indonesia, menurunkan angka gizi buruk dan anemia, meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda, serta membangun budaya hidup sehat dalam keluarga dan masyarakat.
MBG juga memiliki potensi besar menjadi sarana edukasi gizi nasional yang menjangkau hingga tingkat keluarga. Peluang ini perlu dimanfaatkan agar manfaat program tidak berhenti pada pemberian makanan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan.
Pergantian pimpinan BGN terjadi pada saat yang sangat menentukan. Di satu sisi, kebutuhan terhadap program perbaikan gizi nasional tetap besar. Di sisi lain, berbagai persoalan yang muncul menunjukkan bahwa program sebesar ini memerlukan tata kelola yang semakin kuat.
Kasus hukum yang kini menjerat mantan pimpinan BGN harus menjadi pelajaran berharga bahwa program sebesar apa pun tidak akan bertahan tanpa integritas. Karena itu, pergantian kepemimpinan BGN hari ini perlu dijadikan momentum untuk membangun kembali kepercayaan publik, memperkuat sistem pengawasan, dan memastikan bahwa setiap kebijakan benar-benar bermuara pada tujuan utamanya: melindungi kesehatan serta masa depan anak-anak Indonesia.
(Fahmi Firdaus )