JAKARTA - Film Pesta Babi menjadi sorotan publik lantaran menuai kontroversi. Di tengah kontroversi itu, muncul anggapan terdapat indikasi kuat ada upaya menunggangi film sebagai medium untuk menyebarkan narasi yang mengarah pada disintegrasi Papua dari Indonesia.
Menurut pengamat politik Rico Marbun, ada tiga modus propaganda yang dapat dicermati dalam film tersebut. Ia menilai pesan yang disampaikan sudah melampaui batas kritik sosial dan mulai mengarah pada pembentukan opini tertentu terkait hubungan Papua dengan Indonesia.
"Kehadiran film ini bukan lagi hanya menjadi kritik sosial. Ada pola komunikasi yang mengarah pada pembentukan narasi pemisahan Papua dari Indonesia," ujar Rico yang juga alumnus Rajaratnam School of International Studies (RSIS), dalam keterangannya, Selasa (9/6/2026).
"Apa pun yang dilakukan pemerintah dianggap salah. Ini bisa dikatakan upaya membangun ketidakpercayaan total terhadap negara," ujarnya.
Modus ketiga, lanjut Rico, berkaitan dengan upaya membentuk sentimen negatif atau kebencian terhadap pemerintah guna memperoleh legitimasi politik bagi agenda pemisahan wilayah atau disintegrasi. Pendekatan semacam ini, menurut Rico, lazim ditemukan dalam berbagai gerakan separatis di sejumlah negara.
Strategi tersebut biasanya dilakukan dengan menciptakan jarak psikologis antara masyarakat dan negara sebelum mendorong munculnya tuntutan untuk memisahkan diri.
"Masyarakat Papua dan seluruh rakyat Indonesia harus waspada. Jangan sampai film ini dijadikan kendaraan propaganda politik yang mengancam persatuan nasional," ujarnya.
Kendati Rico menegaskan bahwa kebebasan berekspresi tetap harus dijunjung tinggi dan dihormati. Namun, ia mengingatkan ruang kebebasan tersebut tidak boleh dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan yang berpotensi memecah belah bangsa maupun mengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Kita mendukung kebebasan mengkritik kebijakan pemerintah, tetapi menolak segala bentuk propaganda yang berpotensi menguatkan semangat spararisme," tuturnya.
(Arief Setyadi )