Jennelyn Badoria, ibu dari seorang siswi berusia 15 tahun yang meninggal dalam serangan itu, mendesak polisi untuk meminta pertanggungjawaban siapa pun yang menyediakan senjata kepada para pelaku penembakan.
“Saya meminta agar pemilik senjata api dituntut, karena senjata-senjata itu tidak akan sampai ke tangan anak-anak jika bukan karena mereka,” katanya kepada kantor berita AFP.
Para tersangka, keduanya siswa kelas tujuh, telah diserahkan kepada otoritas kesejahteraan sosial.
Dalam sebuah video yang diunggah daring, siswa yang bersembunyi di bawah meja di ruang kelas yang tertutup terdengar berteriak dan menangis saat suara tembakan terdengar di luar. Beberapa memanggil ibu mereka.
Video lain menunjukkan siswa yang ketakutan berhamburan keluar dari kampus sekolah, beberapa saling berpegangan dan berpelukan.
Presiden Ferdinand Marcos Jr telah memerintahkan penyelidikan menyeluruh atas penembakan tersebut dan meminta penegak hukum untuk meningkatkan keamanan di semua sekolah, tempat kerja, dan area publik, kata Wakil Menteri Komunikasi Claire Castro.
“Presiden sedih atas kejadian ini. Siapa pun, terutama orang tahu para korban, akan merasa sedih dan ketakutan,” kata Castro.
Polisi mengatakan para korban telah dibawa ke fasilitas medis terdekat untuk perawatan, sementara personel tambahan telah dikerahkan di sekolah untuk memastikan keselamatan siswa, staf, orang tua, dan masyarakat sekitar.