Jenazah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei Tiba di Teheran untuk Upacara Perpisahan

Rahman Asmardika, Jurnalis
Jum'at 03 Juli 2026 10:10 WIB
Upacara penghormatan dan perpisahan yang diadakan untuk Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Syahid Seyyed Ali Khamenei. (Foto: X/@IraninIndonesia)
Share :

TEHERAN – Peti jenazah mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang dibunuh dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel, telah dibawa ke upacara perpisahan di ibu kota, Teheran, dengan delegasi internasional yang akan berpartisipasi dalam upacara tersebut.

Upacara pada Jumat (3/7/2026) tersebut dihadiri oleh ribuan anggota keluarga korban yang tewas dalam perang AS-Israel di Iran, yang berkumpul untuk berduka di dekat lokasi peringatan, demikian dilansir TRT.

Khamenei dibunuh dalam serangan gabungan AS-Israel di Iran pada 28 Februari, sebuah peristiwa yang memicu perang selama berminggu-minggu dan meningkatkan ketegangan di seluruh Timur Tengah.

Menurut jadwal pemakaman yang diumumkan, upacara peringatan resmi untuk Khamenei akan diadakan pada hari Jumat, dengan partisipasi kepala negara, pejabat senior, dan pemimpin agama.

Para pemimpin, pejabat senior, atau perwakilan dari lebih dari 30 negara, termasuk Rusia, China, Pakistan, India, Tajikistan, Georgia, dan Kuba akan menghadiri upacara tersebut, menurut laporan media Iran.

Pakistan, mediator kunci dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran tentang mengakhiri perang di Timur Tengah, mengatakan Perdana Menteri Shehbaz Sharif akan hadir di pemakaman di Teheran pada Sabtu (4/7/2026). China, Afghanistan, dan negara-negara tetangga Iran di kawasan Kaukasus mengatakan mereka juga akan mengirimkan perwakilan.

Foto-foto yang dipublikasikan secara daring oleh media pemerintah Iran menunjukkan Jenderal Ahmad Vahidi menghadiri pertemuan tentang pemakaman Khamenei, 86 tahun, kemudian duduk di samping peti jenazahnya.

 

Vahidi, yang memimpin Korps Garda Revolusi Iran, telah menjadi pemain utama dalam merumuskan sikap keras Iran dalam menegosiasikan kemungkinan pengakhiran permanen perang dengan Amerika Serikat, kata para ahli.

Ia diyakini sebagai bagian dari kelompok kecil yang berhubungan langsung dengan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, yang belum terlihat di depan umum setelah dilaporkan terluka dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari yang menewaskan ayahnya, Khamenei senior.

Vahidi sendiri belum terlihat di depan umum sejak 8 Februari, beberapa minggu sebelum perang dimulai.

'Referendum Lain'

Upacara perpisahan akan berlanjut di Teheran pada tanggal 4 dan 5 Juli, diikuti oleh prosesi pemakaman utama di ibu kota pada tanggal 6 Juli. Ritual pemakaman kemudian akan berpindah ke kota suci Qom pada tanggal 7 Juli.

Pada tanggal 8 Juli, upacara dijadwalkan di Irak, termasuk di Baghdad, Najaf, dan Karbala, di mana jenazah akan diterima oleh tokoh-tokoh agama dan politik dan dibawa ke tempat-tempat suci Syiah utama.

Upacara pemakaman dan penguburan terakhir dijadwalkan pada tanggal 9 Juli di makam Imam Ali Reza di kota Mashhad di timur laut, salah satu situs suci Syiah terpenting.

"Kehadiran publik yang besar pada prosesi pemakaman pemimpin yang gugur dan para martir lainnya, pada dasarnya, akan menjadi referendum lain bagi Republik Islam," kata pemimpin salat Jumat Qom, Ayatollah Mohammad Saidi, kepada media pemerintah.

Menurut para pejabat, upacara tersebut diperkirakan akan menarik antara 15 hingga 20 juta pelayat, yang akan menjadikannya pemakaman kenegaraan terbesar dalam sejarah negara itu.

Pembunuhan Khamenei, dan suksesi putranya Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi ketiga Iran, dalam perang melawan musuh terbesarnya, menandai momen penting dalam 47 tahun terakhir di Iran.

 

Sementara itu, Iran dan AS menyelesaikan putaran pembicaraan tidak langsung di Doha, kata para mediator pada hari Kamis, saat mereka terus berupaya memajukan negosiasi dan menurunkan ketegangan setelah baku tembak baru-baru ini.

Pada bulan Juni, Washington dan Teheran menyepakati nota kesepahaman, yang dimediasi oleh Pakistan dan Qatar, yang mencakup gencatan senjata 60 hari yang menghentikan perang yang meletus dengan serangan AS-Israel pada akhir Februari, serta pembukaan kembali Selat Hormuz yang diblokade.

Kesepakatan 14 poin tersebut juga menetapkan jangka waktu untuk pembicaraan guna mengakhiri perang secara permanen dan menyelesaikan masalah seperti pengaturan untuk Hormuz, pendanaan rekonstruksi untuk Iran, dan masa depan program nuklir Teheran.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya