JAKARTA – Badan Geologi resmi menaikkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Lampung, dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Kenaikan status tersebut dilakukan setelah terjadi peningkatan aktivitas vulkanik yang ditandai lonjakan kegempaan hingga erupsi.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan kenaikan status dimulai setelah pada Kamis (2/7/2026) pukul 14.05 WIB terjadi erupsi dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut.
"Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh, maka tingkat aktivitas Gunung Api Anak Krakatau dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB," kata Lana, Jumat (3/7/2026).
"Selama periode 16 Juni hingga 2 Juli 2026 terekam 740 kali gempa hembusan, 24 kali gempa harmonik, 247 kali gempa low frequency, 520 kali gempa hybrid/fase banyak, 16 kali gempa tremor menerus, 2 kali gempa vulkanik dangkal, 3 kali gempa vulkanik dalam, 1 kali gempa tektonik lokal, dan 5 kali gempa tektonik jauh," jelasnya.
Dengan kenaikan status menjadi Level III (Siaga), masyarakat, wisatawan, maupun pendaki dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
"Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya berupa awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu apabila terjadi peningkatan aktivitas erupsi," imbau Lana.
Namun, Lana meminta warga di wilayah pesisir Lampung dan Banten tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang menyebut erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami. Badan Geologi meminta masyarakat mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan BPBD setempat.
"Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunung Api Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat," imbaunya.
(Awaludin)