Sembilan mayat ditemukan di Ceuta pada Kamis, kata pihak berwenang setempat, yang menambah jumlah korban meninggal menjadi 60 migran saat mencoba menyeberang ke wilayah tersebut dalam beberapa bulan terakhir.
Pemerintah mengatakan 200 petugas polisi khusus dan 60 tentara tiba dari daratan Spanyol untuk memperkuat pasukan reguler Ceuta. Tidak jelas apakah bala bantuan dikirim ke Melilla, dan pihak berwenang tidak dapat segera dihubungi untuk memberikan komentar.
Di jalan raya sekitar 150 kilometer (90 mil) sebelah selatan Ceuta di Maroko, saksi mata Reuters melihat sekelompok anak muda berjalan ke utara dengan harapan dapat mencapai wilayah Spanyol.
Pemandangan itu mengingatkan pada 2021, ketika sekitar 10.000 orang dari Maroko dan Afrika sub-Sahara—banyak di antaranya anak di bawah umur—memasuki Ceuta, sebuah enklave dengan 85.000 penduduk.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez akan melakukan perjalanan ke Ceuta pada Jumat (31/7/2026) bersama Menteri Dalam Negeri Fernando Grande-Marlaska untuk melakukan pertemuan dengan pasukan keamanan dan otoritas lokal, kata kantornya.
Ceuta dan Melilla memiliki satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan Afrika. Kedua kota tersebut secara berkala mengalami lonjakan upaya penyeberangan oleh migran yang ingin mencapai Eropa.
Pemerintah Sosialis Spanyol menonjol di Eropa karena sikap pro-migran, dan baru-baru ini meluncurkan program untuk memberikan status hukum bagi sekitar 500.000 migran tanpa dokumen, yang memicu masuknya permohonan dua kali lipat dari jumlah tersebut.