Tragedi tersebut menyisakan duka mendalam bagi banyak pihak. Karima Abenaz, warga Prancis yang memiliki keluarga di Maroko, mengaku sedih melihat banyak anak muda kehilangan nyawa di laut.
"Saya sangat sedih melihat anak-anak muda meninggal di laut. Tidak seharusnya pada 2026 perempuan yang membawa bayi berusia dua bulan harus menyeberangi laut hanya untuk kehilangan nyawa," ujarnya.
Ceuta bersama Melilla merupakan dua wilayah otonom Spanyol di Afrika Utara yang menjadi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan Benua Afrika. Kedua wilayah itu kerap menjadi tujuan utama para migran yang berusaha mencapai Eropa.
Untuk mencapai Ceuta, para migran biasanya berenang sejauh sekitar lima kilometer dari Kota Fnideq di Maroko atau melalui jalur yang lebih pendek dari Belyounech. Menyusul gelombang penyeberangan terbaru, pemerintah Spanyol memperkuat patroli polisi dan militer serta memasang penghalang apung sepanjang 500 meter di pesisir Ceuta.
Pemerintah Spanyol menegaskan kebijakan pemberian izin tinggal bagi migran tidak berdokumen bukan menjadi penyebab meningkatnya arus migran ke Ceuta. Menurut pemerintah, para migran yang masuk secara ilegal ke Ceuta tetap tidak dapat melanjutkan perjalanan ke daratan Spanyol maupun wilayah Schengen lainnya.
(Awaludin)