Ketiga negara memiliki kekhawatiran yang sama mengenai sikap militer yang semakin agresif dari Israel maupun Iran di kawasan.
Ketiga negara ini merupakan negara-negara mayoritas Muslim yang berpengaruh di kawasan dan secara global. Turki memiliki kekuatan militer terbesar kedua di NATO. Arab Saudi merupakan tempat bagi situs-situs paling suci dalam Islam dan salah satu eksportir minyak terbesar di dunia, sementara Pakistan adalah satu-satunya negara Muslim yang memiliki senjata nuklir.
Namun, Rayed Krimly, Wakil Menteri Diplomasi Publik Arab Saudi, menyatakan dalam sebuah unggahan di media sosial bahwa kesepakatan tersebut tidak mencerminkan upaya untuk membentuk poros militer ataupun blok sektarian.
"Kesepakatan ini juga tidak terkait dengan ambisi nuklir maupun perlombaan senjata apa pun," ujarnya.
Meskipun Pakistan menyepakati pakta pertahanan bersama dengan Arab Saudi tahun lalu, negara itu tidak menanggapi serangan Iran terhadap kerajaan tersebut secara militer. Pakistan juga menepis anggapan bahwa kemampuan penangkal nuklirnya dapat diperluas untuk mencakup sekutu; terkait pakta dengan Arab Saudi, mereka menyatakan tahun lalu bahwa senjata nuklir "tidak masuk dalam agenda".
Baik Pakistan maupun Turki juga telah menyatakan dukungan terhadap koalisi pertahanan maritim yang diumumkan oleh Arab Saudi untuk melindungi jalur pelayaran dan energi di kawasan tersebut.