Sejarah berulang kali menunjukkan bahwa daya hidup keyakinan agama sering kali melampaui kekuatan politik. Namun, sejarah juga mengingatkan kita bahwa kampanye penindasan dan transformasi yang berkepanjangan menimbulkan dampak nyata yang berat bagi komunitas maupun individu. Menghadapi kenyataan semacam itu, sikap diam pun bisa menjadi bentuk persetujuan diam-diam.
Dalam pengertian ini, perdebatan mengenai reinkarnasi Dalai Lama menyangkut hal yang jauh lebih luas daripada sekadar masa depan Buddhisme Tibet. Perdebatan ini memunculkan pertanyaan-pertanyaan lebih luas mengenai makna kebebasan beragama, batasan yang tepat bagi otoritas negara, serta apakah—di dunia yang majemuk ini—budaya-budaya yang khas memiliki hak untuk melestarikan dan mempertahankan keberadaannya sesuai dengan tradisi mereka sendiri.
(Rahman Asmardika)