China Dituduh Bangun Pangkalan Militer di Tibet dengan Kedok Proyek Energi Bersih

Rahman Asmardika, Jurnalis
Selasa 25 Agustus 2026 14:01 WIB
Pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia, Taman Tenaga Surya Talatan di Prefektur Otonom Tibet Hainan, Qinghai, China.
Share :

JAKARTA – China melakukan pengembangan pesat infrastruktur di Daerah Otonomi Tibet, yang digambarkan sebagai kawasan perintis energi bersih berkelas dunia. Namun, pembangunan infrastruktur tenaga air, surya, angin, dan transmisi tegangan ultra-tinggi (UHV) di seluruh dataran tinggi tersebut mendapat sorotan karena berfungsi ganda sebagai jaringan kokoh yang dapat menopang kehadiran militer jangka panjang di dekat perbatasan India-China.

Dengan kehadiran infrastruktur ini, China dituding mengubah Tibet menjadi apa yang disebut dalam sebuah studi geospasial sebagai "basis kekuatan dataran tinggi" China.

Dari "Basis Energi Bersih" Menjadi Benteng Kekuatan

Dilansir Bitter Winter, Selasa (25/8/2026), secara resmi Beijing menampilkan Tibet sebagai zona percontohan hijau nasional yang berlandaskan dua kerangka kerja utama: pertama, Rencana Lima Tahun ke-14 (secara resmi disebut "Rencana Lima Tahun ke-14 untuk Pembangunan Ekonomi dan Sosial serta Tujuan Jangka Panjang hingga Tahun 2035 Republik Rakyat China"), yang disusun dalam sidang pleno kelima Komite Sentral ke-19 Partai Komunis China (PKC) pada Oktober 2020 dan menetapkan sasaran pembangunan ekonomi negara tersebut untuk periode 2021–2025; kedua, strategi sektoral yang menyerukan pembangunan basis tenaga air dan surya berskala multi-gigawatt di sungai-sungai besar dan dataran tinggi.

Administrasi Energi Nasional RRC mencatat bahwa jaringan listrik Tibet telah ditingkatkan menjadi jaringan terpadu 500 kilovolt (kV) yang terhubung melalui saluran arus searah (DC) ±400 kV ke Qinghai dan saluran 500 kV ke Sichuan, yang secara eksplisit bertujuan mendukung pengembangan "basis energi bersih" berskala besar serta transmisi energi jarak jauh.

Menjelang tahun 2024, lebih dari 99 persen listrik di Tibet telah dihasilkan dari sumber-sumber bersih, sementara kampanye "ekspor listrik Tibet" telah menyalurkan hampir 18 miliar kilowatt-jam (kWh) ke wilayah China bagian timur sejak tahun 2015, dengan rencana pembangunan setidaknya sepuluh koridor ekspor UHV (tegangan ultra-tinggi) pada tahun 2050. Proyek-proyek unggulan baru mencakup jalur Jinshang–Hubei ±800 kV—proyek ekspor UHV pertama yang beroperasi di TAR—dan jalur UHV Tibet–Guangdong ±800 kV; masing-masing jalur ini mampu menyalurkan sekitar 400–430 miliar kWh per tahun ke provinsi-provinsi di wilayah tengah dan pesisir.

Aset-aset ini dipandang sebagai simbol upaya RRC dalam mencapai netralitas karbon pada tahun 2060; namun, lokasinya di dataran tinggi juga menjamin ketersediaan pasokan listrik yang melimpah di dekat lembah dan celah strategis yang berbatasan dengan India.

Bendungan di Dekat Perbatasan, Jalan untuk Pengerahan Cepat

Pembangunan bendungan raksasa di Sungai Yarlung Tsangpo, yang di bagian hilirnya dikenal sebagai Sungai Siang dan Brahmaputra di India, serta Sungai Jamuna di Bangladesh, menjadi salah satu langkah Beijing yang paling banyak mendapat sorotan.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya