Lokasi bendungan ini berada di dekat Medog, hanya beberapa puluh kilometer dari Line of Actual Control atau "Garis Kendali Aktual" (LAC) yang berbatasan dengan negara bagian Arunachal Pradesh, India. LAC, yang memisahkan Daerah Otonom Xinjiang Uygur dan Daerah Otonom Tibet milik China di utara dari wilayah persatuan Ladakh serta negara bagian Uttarakhand, Himachal Pradesh, Sikkim, dan Arunachal Pradesh milik India di selatan sepanjang pegunungan Himalaya, merupakan wilayah yang disengketakan dengan India dan merupakan perbatasan yang sama sekali tidak resmi.
Garis ini dirancang sebagai kompromi de facto menyusul gencatan senjata yang mengakhiri Perang China-India tahun 1962. Meskipun China dan India sepakat untuk menghormati garis tersebut pada tahun 1993, tidak ada peta resmi maupun demarkasi wilayah yang jelas, sehingga statusnya terus menjadi sumber sengketa.
Artikel di China menyebut proyek Medog sebagai "proyek strategis nasional yang komprehensif", yang memiliki dimensi ketahanan energi, pembangunan wilayah, pengelolaan ekologi, pertahanan nasional, dan geopolitik. Proyek ini disebut mencatat perkiraan investasi sebesar 1,2 triliun yuan, termasuk "jalan strategis" yang terkait dengan bendungan tersebut, yang dapat memangkas waktu pengerahan peralatan berat PLA di wilayah itu hingga 70 persen.
Ditambahkan pula bahwa pembangkit listrik tersebut dirancang agar dapat dengan cepat beralih fungsi menjadi pusat pasokan listrik militer bagi jaringan pertahanan perbatasan, serta bahwa proyek ini akan mendorong pembangunan lima kota perbatasan baru yang membentuk sabuk pertahanan dengan kedalaman 30 kilometer.
Proyek ini juga dipromosikan sebagai rencana mengekspor listrik berbiaya rendah ke Nepal dan Bangladesh, sekaligus menegaskan bagaimana satu kompleks pembangkit listrik tenaga air diharapkan dapat mengubah postur kekuatan lokal maupun pengaruh regional.
Di tingkat politik, proyek-proyek ini merupakan bagian tak terpisahkan dari kebijakan Presiden Xi Jinping terkait Tibet, yang tercermin dalam slogan politik yang sangat relevan bagi Daerah Otonomi Tibet.
Langkah pertama adalah menstabilkan Tibet, yang oleh Beijing disorot dalam empat pilar: stabilitas, pembangunan, ekologi, dan qiangbian (perbatasan yang kuat), di mana pembangunan kawasan perbatasan digambarkan sebagai "garis depan perisai keamanan nasional".
Sejak 2012, inisiatif ini dikemas sebagai program intensif pembangunan "desa perbatasan yang sejahtera" serta aksi nasional untuk "memperkuat dan memakmurkan perbatasan demi kesejahteraan rakyat", yang secara eksplisit memadukan pembangunan infrastruktur dengan pengendalian populasi di wilayah perbatasan. Statistik resmi melaporkan bahwa pada periode 2025–2026, telah rampung pembangunan 624 desa perbatasan (xiaokang), akses jalan menuju seluruh wilayah kabupaten (county) dan kota kecil (township) di perbatasan, perluasan jaringan listrik utama ke setiap kota kecil di perbatasan, serta cakupan broadband dan jaringan 4G yang mencapai hampir 100 persen di sepanjang perbatasan Tibet yang membentang sekitar 4.000 kilometer.