Banyak pihak merasa geram dan menyatakan penolakan setelah pemerintah mengungkapkan rencananya untuk melakukan penguburan massal yang bersifat "sementara" bagi para korban meninggal. Masyarakat Nepal, yang sebagian besar beragama Hindu, menentang langkah tersebut karena dianggap bertentangan dengan tradisi keagamaan.
Keluarga-keluarga di Nepal menggelar upacara pemakaman simbolis untuk "membebaskan jiwa" orang-orang terkasih yang hilang sejak banjir bandang mematikan menyapu desa dan rumah mereka di wilayah Himalaya sepekan yang lalu.
Polisi yang menggunakan pesawat nirawak (drone) untuk mencari korban selamat melaporkan pada Selasa (1/9/2026) bahwa mereka menemukan 24 jenazah di sebuah rumah di distrik Nuwakot. Setidaknya 17 jenazah juga telah ditemukan di sungai-sungai yang mengalir jauh ke hilir hingga ke wilayah India.
Perdana Menteri Balendra Shah menyebut bencana ini sebagai peristiwa yang "tak terbayangkan dan memilukan".
(Rahman Asmardika)