RIYADH – Sebuah kapal supertanker milik Arab Saudi diserang Iran di Selat Hormuz, menewaskan dua pelaut Filipina. Serangan terhadap kapal Sidr tersebut dikonfirmasi oleh perusahaan pelayaran nasional Saudi, Bahri, pada Rabu (2/9/2026).
Menurut perusahaan, Sidr terkena proyektil di sebelah utara Semenanjung Musandam, Oman pada Senin (31/8/2026). Sebuah kapal tanker raksasa milik Korea Selatan, Senegal Prosperity, juga dilaporkan terkena serangan di sebelah timur Musandam pada waktu yang hampir bersamaan.
Iran belum menanggapi tuduhan Saudi tersebut. Namun, sebelumnya Iran menyatakan bahwa dua kapal tanker terbakar setelah menabrak ranjau saat melintasi jalur tidak resmi di selat tersebut, demikian dilansir BBC.
Berita mengenai kematian para pelaut itu muncul setelah militer AS melancarkan serangkaian serangan udara terhadap Iran, yang dibalas Teheran dengan menargetkan pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Arab menggunakan rudal serta pesawat nirawak (drone).
Pada Rabu, Menteri Kesehatan Iran menyatakan bahwa 18 orang tewas dan 108 orang terluka akibat serangan AS tersebut. Iran menuduh AS melakukan "kejahatan perang" terkait serangan yang menewaskan empat orang—termasuk dua anak-anak—di sebuah pesta pernikahan di kota Sirik, wilayah selatan Iran.
Sebelumnya, perusahaan intelijen dan manajemen risiko maritim, Marisks dan Kpler, melaporkan bahwa dua kapal tanker—yang masing-masing mengangkut dua juta barel minyak mentah Saudi—terkena proyektil tak dikenal dalam selang waktu beberapa menit saat sedang melintasi Selat Hormuz menuju arah luar pada Senin malam.