JAKARTA - Laporan baru dari Biro Sensus Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa populasi lanjut usia di dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia telah melampaui jumlah anak-anak usia dini. Eropa, yang sudah menjadi kawasan dengan populasi tertua di dunia, berada di garis depan tren ini.
Dalam laporan bertajuk "An Aging World: 2025", biro tersebut menyatakan bahwa penduduk berusia 65 tahun ke atas mencakup 10,5% dari populasi global pada tahun 2025, melampaui jumlah anak-anak berusia lima tahun ke bawah untuk pertama kalinya.
Perubahan ini didorong oleh peningkatan harapan hidup dan penurunan tingkat kelahiran. Biro Sensus menyatakan bahwa tingkat kesuburan yang terus-menerus berada di bawah tingkat penggantian populasi dapat menciptakan "jebakan kesuburan" (fertility trap), karena jumlah calon orang tua pada akhirnya akan berkurang.
Menurut data PBB, sekitar 132 juta bayi lahir di seluruh dunia setiap tahunnya saat ini. Angka ini turun dari puncak sekitar 142 juta pada awal tahun 2010-an. Afrika mencatat sekitar 47 juta kelahiran pada tahun 2024, yang mencerminkan tren global yang semakin timpang.
Penurunan ini sangat terasa di Eropa. Hanya 3,55 juta bayi yang lahir di Uni Eropa pada tahun 2024, hampir separuh dari angka 6,8 juta yang tercatat pada tahun 1964. Tingkat kesuburan kawasan tersebut telah turun ke rekor terendah, yakni 1,34 anak per perempuan.
Pergeseran demografis ini diperkirakan akan semakin cepat. Menurut Biro Sensus AS, populasi global diperkirakan akan bertambah lebih dari 2 miliar jiwa pada tahun 2060, sementara jumlah penduduk berusia 65 tahun ke atas akan meningkat sekitar 1,15 miliar jiwa.
Pada saat itu, kelompok lanjut usia diproyeksikan mencakup 19,6% dari total populasi dunia, naik dari 10,5% saat ini. Laporan tersebut menyebutkan bahwa di Eropa, proporsi kelompok ini diperkirakan akan meningkat dari 21% menjadi hampir 31%.
Pergeseran ini akan semakin membebani anggaran pemerintah karena jumlah pekerja dan pembayar pajak yang lebih sedikit harus menanggung jumlah pensiunan yang terus bertambah. Laporan Sensus tersebut memperkirakan bahwa di negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), peningkatan belanja pemerintah untuk layanan kesehatan selama dekade mendatang akan mencapai 2,6% dari PDB—dua kali lipat dari proyeksi pertumbuhan pendapatan sebesar 1,3%.
OECD memperingatkan pada bulan Juni bahwa peningkatan belanja militer akan memaksa pemerintah untuk membuat "pilihan sulit" terkait prioritas anggaran, khususnya di negara-negara dengan utang besar seperti Belgia, Prancis, Italia, dan Inggris. Lembaga tersebut menyatakan bahwa anggaran pertahanan yang lebih besar akan memperparah tekanan yang sudah ada akibat meningkatnya biaya pensiun dan layanan kesehatan.
Tuntutan yang saling bersaing ini telah memengaruhi dinamika politik Eropa. Belgia telah memperketat aturan pensiun dan kesejahteraan sosial, sementara Jerman menambah utang untuk mendanai peningkatan kekuatan militernya dan Prancis membatasi belanja non-pertahanan.
(Rahman Asmardika)