Lebih lanjut, Daryono mengatakan komposisi asam yang melekat pada abu vulkanik juga berpotensi menyebabkan korosi instan pada komponen elektronik sensitif dan mencemari sistem pengondisian udara kabin (bleed air). Hal ini tidak hanya mengancam kelangsungan fungsi instrumen penerbangan, tetapi juga membahayakan keselamatan sistem pernapasan kru dan penumpang.
Abu vulkanik sangat berbahaya bagi penerbangan karena mengandung fragmentasi kaca silika (SiO2) dan mineral mikroskopis tajam yang bersifat abrasif, yang sanggup mengikis kaca kokpit, merusak sensor kecepatan udara, serta memicu gangguan listrik statis pada navigasi.
Bahaya paling fatal terjadi ketika abu terhisap ke dalam mesin jet; suhu ruang bakar yang mencapai 1.400°C akan melelehkan partikel silika tersebut hingga menjadi cairan kaca yang kemudian mendingin dan membeku di bilah turbin, menyumbat aliran udara, dan menyebabkan kegagalan mesin mendadak (flameout) di udara.
Daryono menceritakan bahwa insiden penerbangan paling terkenal akibat abu vulkanik terjadi pada 24 Juni 1982, ketika pesawat British Airways Penerbangan 9 melintasi awan abu erupsi Gunung Galunggung di Jawa Barat pada ketinggian 37.000 kaki.
“Abu vulkanik silika yang terhisap ke dalam empat mesin jet Boeing 747 tersebut meleleh dan membeku di bilah turbin hingga memicu kegagalan pembakaran mendadak (flameout) yang mematikan seluruh mesin secara bersamaan, disertai fenomena listrik statis St. Elmo’s Fire dan kikisan abrasif pada kaca kokpit,” katanya.