RIYADH - Arab Saudi terpaksa menutup jalur pipa minyak strategis Timur-Barat setelah serangan pesawat nirawak (drone) merusak fasilitas pemompaan di sepanjang rute tersebut. Serangan ini menjadi pukulan baru bagi kemampuan kerajaan tersebut dalam mengekspor minyak mentah di tengah situasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan pada Jumat (11/9/2026) bahwa jalur pipa tersebut dihantam di beberapa lokasi di wilayah Riyadh dan Madinah sehari sebelumnya, yang mengakibatkan "sejumlah korban luka" dan mendorong pihak berwenang untuk menghentikan operasi sebagai "langkah pencegahan." Tim darurat sedang melakukan penilaian terhadap kerusakan, dan pihak Riyadh belum memberikan keterangan mengenai kapan operasi pemompaan akan dilanjutkan kembali.
Dua pejabat AS yang dikutip oleh CNN menyatakan bahwa analisis awal mengindikasikan setidaknya dua stasiun pemompaan di sepanjang jalur pipa tersebut terkena serangan drone. Citra satelit dilaporkan memperlihatkan kerusakan parah akibat kebakaran di salah satu fasilitas serta kebakaran yang lebih kecil di fasilitas lainnya.
Pipa Timur-Barat mengalirkan minyak mentah dari Provinsi Timur Arab Saudi—wilayah penghasil minyak—melintasi wilayah kerajaan menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah, sehingga memungkinkan ekspor dilakukan tanpa harus melewati Selat Hormuz. Pipa ini mampu mengalirkan hingga 7 juta barel per hari, dengan sekitar 5 juta barel per hari tersedia untuk ekspor setelah memenuhi kebutuhan kilang-kilang di wilayah barat.
Rute ini menjadi sangat penting sejak konflik antara Washington dan Teheran sangat mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz. Arab Saudi dilaporkan mengalihkan sekitar 5 juta barel minyak per hari—yang sedianya akan dimuat di terminal-terminal Teluk Persia—ke jalur pipa menuju Laut Merah.