Penutupan jalur pipa ini terjadi tepat saat pasukan Houthi di Yaman yang beraliansi dengan Iran berhasil memukul mundur pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi, serta merebut pelabuhan Mocha di Laut Merah dan Pulau Mayun yang terletak di pintu masuk jalur pelayaran strategis lainnya, Selat Bab al-Mandeb.
Kelompok Houthi juga telah secara langsung menargetkan infrastruktur energi Arab Saudi. Citra satelit tertanggal 9 September memperlihatkan adanya kerusakan signifikan pada fasilitas Saudi Aramco di Jazan, wilayah selatan kerajaan tersebut; kerusakan itu mencakup hancurnya setidaknya empat tangki penyimpanan minyak serta tanda-tanda kerusakan akibat kebakaran di area pemrosesan. Serangan-serangan ini menyusul rentetan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) berskala besar yang dilancarkan Houthi terhadap sejumlah lokasi energi di Jazan, Abha, dan kota-kota selatan lainnya—serangan yang diakui oleh pihak berwenang Saudi telah memaksa penghentian operasional di beberapa fasilitas.
Riyadh menyatakan bahwa serangan terbaru terhadap jalur pipa tersebut tidak berasal dari Yaman maupun Iran, melainkan dari wilayah Irak. Arab Saudi menegaskan haknya untuk mempertahankan wilayah dan infrastruktur vitalnya, namun menyatakan akan menunda tindakan balasan atas permintaan Perdana Menteri Irak, guna memberi kesempatan bagi Baghdad untuk melakukan penyelidikan dan mencegah serangan lebih lanjut.