JAKARTA — Tragedi kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo dan KA Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 lalu masih menyisakan trauma mendalam. Sejumlah anggota keluarga korban dilaporkan mengalami beban psikologis berat hingga enggan kembali menggunakan moda transportasi kereta api.
Ketua Paguyuban Keluarga Korban Tragedi Kecelakaan KRL Bekasi Timur, Anggi Al Hakim, mengungkapkan bahwa trauma berat masih menyelimuti anggota keluarganya pascainsiden tersebut.
Ia menyebut sebagian keluarganya kini lebih memilih beralih menggunakan kendaraan pribadi atau bus untuk beraktivitas ketimbang naik KRL.
Bahkan, menurut Anggi, ada salah satu anggota keluarga korban yang mengambil keputusan ekstrem dengan mengundurkan diri dari pekerjaannya di Jakarta guna menghindari trauma.
"Benar, saya sekeluarga ya, dan bahkan lebih ekstremnya lagi ada salah satu keluarga yang resign, tidak bekerja di Jakarta lagi," ujar Anggi saat dihubungi, Rabu (30/9/2026).
"Karena sudah tidak bisa lagi naik KRL atau bepergian ke arah Jakarta yang notabene membuat mereka terus teringat insiden itu," tambahnya.
Tak hanya itu, Anggi yang merupakan kakak dari salah satu korban tewas, Nur Alimantun Citra Lestari (19), mengaku tengah mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan di area Bekasi. Langkah ini diambil demi menghindari lokasi kejadian yang kerap memicu kembali kenangan pahit tragedi yang menewaskan 16 orang dan melukai 107 lainnya tersebut.
"Bahkan saya juga ada kepikiran mau cari kerja di daerah Bekasi biar menghindari Stasiun Bekasi Timur. Karena memang beban psikologisnya masih ada sampai saat ini," ungkapnya.
"Sampai hari ini juga masih teringat-ingat, susah dilupakan," pungkas Anggi.
(Rahman Asmardika)