Ada kenangan lain yang hari ini terasa seperti isyarat. Ketika Saleh menjadi Pangdam XVII Cenderawasih, Doni Monardo bertandang dalam bakti sosial operasi katarak “Kitorang Melihat Terang” di Puncak Jaya bekerjasama dengan PPAD.
Dari sana, Doni mengajaknya melihat sagu di Sentani. Keduanya ketika itu mengatakan tekad menjadikan Papua sebagai salah satu sentra pangan melalui sagu.
Saya tidak tahu apakah ia masih mengingat percakapan itu. Saya mengingatnya. Dulu ia berdiri di depan pengolahan sagu sebagai Pangdam. Kini ia masuk Kementerian Pertanian. Sejarah kadang menyambungkan titik-titik yang dahulu terlihat tidak berhubungan.
Dari Doni pula Saleh menyerap prinsip “kolaborasi tanpa batas” dan filosofi “kita jaga alam, alam jaga kita.” Dua kalimat itu rasanya pantas dibawa ke meja kerjanya yang baru.
Sebab pertanian bukan sekadar mengejar berapa ton produksi gabah kering. Tanah harus tetap subur, air harus tersedia, alam harus terjaga, dan orang yang mengolahnya harus hidup sejahtera.
Tifa Bertemu Siri’ na Pacce
Di Kementerian Pertanian, Saleh akan mendampingi Andi Amran Sulaiman. Secara semiotik, pertemuan keduanya menarik.
Saleh membawa Ternate dengan sejarah rempah dan Dalil Tifa. Amran membawa Sulawesi Selatan dengan nilai siri’ na pacce—harga diri yang berpadu dengan solidaritas dan kepedulian kepada sesama.
Jika dibawa ke dunia pertanian, siri’ dapat dimaknai sebagai harga diri bangsa untuk mampu memberi makan rakyatnya sendiri. Sedangkan pacce adalah keberpihakan kepada mereka yang menanam pangan.
Sebab, petani tidak cukup dipuji ketika panen raya. Ia harus hadir dalam pikiran negara ketika pupuk sulit, air tak datang, harga jatuh, atau gagal panen.
Di situlah Ternate bertemu Bugis. Tifa memberi irama. Siri’ memberi harga diri. Pacce memberi hati. Dan sawah menjadi medan pengabdiannya.
Saleh mempunyai modal pengalaman yang relevan: kemampuan mengorganisasi manusia, logistik, wilayah dan kolaborasi. Tetapi pertanian mempunyai hukum yang berbeda dari militer.
Sawah tidak mengenal komando. Tanah tidak bisa dibentak. Musim tidak bisa diperintah. Semuanya harus dibaca, dirawat dan dihormati.