BANYUMAS - Agis Sukoco, anak pasangan Sudirto (38) dan Suliyah (35), warga Desa Kawung Carang, Kecamatan Sumbang, Banyumas, Jawa Tengah, kini terbaring lemah di kasurnya.
Agis menderita talasemia sejak berumur 6 bulan. Kini kondisinya diperparah dengan gizi buruk. Bahkan kedua kaki dan tangan Agis kini mengecil. Berat badannya pun hanya 10 kilogram saja. Padahal untuk anak seusianya, seharusnya Agis mempunyai berat badan mencapai 21 kilogram.
Selama menderita talasemia Agis selalu mendapatkan darah segar secara gratis. Namun kini dia kehilangan kesempatan untuk memperoleh darah untuk transfusi. Sejak dihapuskannya Askeskin, Agis terpaksa hanya memperoleh transfusi darah satu kantong saja dalam satu bulan.
Padahal mestinya dia memperoleh dua kantong darah setiap bulannya. Orangtua Agis kini tidak bisa membeli darah karena harga per kantongnya terlalu mahal bagi ukuran seorang pemulung, yaitu Rp140.000 per kantongnya.
"Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa sejak Askeskin dihapus," ujar Suliyah mengeluh, saat ditemui di rumahnya, Selasa (18/3/2008) mengeluh.
Keceriaan Agis kini hilang sudah. Harapan untuk bisa selalu mendapatkan transfusi darah juga nyaris hilang. Kedua orangtua Agis mengaku sedih dengan tidak adanya Askeskin lagi. Padahal, teman-teman seusia Agis terlihat ceria bermain.
Agis sendiri adalah sebagian kecil dari para penderita talasemia dan gizi buruk di Banyumas yang terkena dampak penghapusan Askeskin. Sementara, di Banyumas sendiri saat ini ada sekira 70 anak penderita talasemia yang mengalami nasib serupa.
Kedua orangtua Agis hanya bisa pasrah dengan keadaan yang menimpa dirinya. Dia berharap, pemerintah kembali mengucurkan dana Askeskin. Pasalnya, jika tidak, maka dia tak tahu lagi kondisi yang akan menimpa anaknya ini.
(Nurfajri Budi Nugroho)