TASIKMALAYA - Depag dan MUI resah dengan ritual yang dilakukan ratusan orang dari kelompok Amanat Keagungan Ilahi (AKI) di Gua Ranggawulung, Desa Setiawaras, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Tasikmalaya Rabu malam (8/10). Pasalnya, meski tidak dinyatakan sebagai aliran sesat namun kelompok tersebut sudah dinyatakan dibekukan dan dilarang beraktifitas oleh Kejati Jabar pada tahun 1993 silam.
Aksi ritual yang kembali dilakukan kelompok AKI ini diikuti oleh kurang lebih 200 jemaah yang berasal dari berbagai daerah seperti Jakarta, Banjar, termasuk dari Tasikmalaya. Ritual dipimpin langsung ketuanya Mohamad Samsu Andreas dari Jakarta yang datang bersama jemaahnya menggunakan dua bus dan beberapa kendaraan pribadi.
Ritual dimulai pukul 19.00 WIB dengan masuknya sekitar 10 orang kedalam gua. Setiap beberapa menit, secara bergiliran mereka mendapatkan do'a terlebih dahulu dari ketua kelompoknya masing-masing dari setiap daerah.
Setelah semua berkumpul di dalam gua, baru ritual akbar dilaksanakan di dalam gua dengan membaca takbir seperti orang yang hendak berlebaran. Didalam gua, para jemaah yang keseluruhan mengenakan baju berwarna putih hanya diterangi dengan cahaya patromak.
Ritual diakhiri dengan menyembelih dua ekor domba berwarna putih sebagai persembahan, yang dilakukan sekitar pukul 24.00 tepat di mulut gua dan satu lagi disembelih di rumah juru kunci gua tersebut.
Daging domba tersebut kemudian dibagi-bagikan kepada warga setempat, meski heran atas kedatangan orang luar daerah warga tidak ambil pusing dan memilih memanfaatkan daging domba untuk disantap keluarganya.
"Yang kami khawatirkan adalah terjadinya praktik yang mengarah kepada pemurtadan atau perbuatan syirik, apalagi mereka menganggap suci gua tersebut. Hal lain yang menurut kami janggal adalah adanya mantra-mantra yang tidak lazim dalam ajaran Islam, dilakukan sebelum pelaksanaan ritual dan pada saat penyembelihan domba," papar Humas Depag yang juga Jubir MUI Tasikmalaya, Dudu Rochman, Kamis (9/10/2008).
Dudu menyebutkan, Depag bersama dengan MUI telah sepakat untuk menutup aktivitas di gua tersebut dalam waktu dekat dubantu Kejaksaan, Polisi, dan masyarakat setempat.
"Kalau tempat itu dijadikan perbuatan syirik oleh orang luar, ya jelas kami pun masyarakat Kabupaten Tasikmalaya merasa berdosa karena menyediakan dan membiarkannya terjadi. Selain ritual, di gua itu juga jemaahnya ada yang melakukan semedi hingga dua hari lamanya atau bahkan lebih," katanya.
Sementara itu, juru kunci Gua Ranggawulung Koswara menyebutkan, tidak tahu menahu mengenai ritual yang dilakukan kelompok AKI tersebut karena dirinya hanya bertugas mengantar dan mempersilakan mereka memasuki gua tersebut.
"Saya sendiri bukan salah satu dari anggota mereka, tetapi jika mereka hendak melaksanakan kegiatan di sana ya selalu menghubungi saya untuk mengantarnya. Saya juga tidak pernah ikut ritualnya seperti apa," ujar Koswara.
(Fitra Iskandar)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.