JAKARTA - Direktur Eksekutif Pedoman Indonesia Fadjroel Rahman menyayangkan komentar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menyebut media memelintir pidatonya.
Komentar SBY tersebut sangat tidak mencerminkan sikap seorang negarawan. "Ini artinya buruk muka pers dibelah. Setelah berpidato menakut-nakuti masyarakat, tendensius dan provokatif, sekarang menakut-nakuti pers," ujar Fadjroel melalui rilis kepada okezone di Jakarta, Kamis (23/7/2009).
Sikap semacam itu menurut Fadjroel sangat tidak layak diucapkan seorang kepala negara. Pada tahap selanjutnya sikap semi otoriter dan tak mau kalah di atas dapat membahayakan demokrasi di Indonesia.
"SBY seharusnya meminta maaf terbuka kepada publik untuk kekeliruan pidatonya. Bukannya malah membela diri tanpa fakta baru yang akurat," pungkasnya.
Saat memberikan arahan dalam acara Rakornas Partai Demokrat di PRJ Kemayoran tadi malam, SBY menegaskan pidatonya dalam menyikapi bom di Kuningan dipelintir oleh media.
"Pernyataan saya jelas dan gamblang, kata demi kata, kalimat demi kalimat. Namun yang terjadi itu berubah di media massa. Atau dalam bahasa politiknya dipelintir dan diputarbalik," ujar SBY.
Â
(Muhammad Saifullah )