SEMARANG - Tim dokter RS Kariadi Semarang menyatakan belum memastikan siapa yang akan jadi pendonor Bilqis Anindya Passa, apakah ayah atau ibunya.
Bayi berusia 17 bulan yang menderita atresia billier atau gangguan saluran empedu itu kini dalam penanganan intensif tim dokter. Sambil menunggu masa ideal melakukan operasi, tim dokter masih menimbang-nimbang siapa yang akan menjadi donor Bilqis.
“Belum tentu ibunya. Siapa tahu kondisinya tidak ideal untuk menjadi donor. Siapa tahu pembuluh darahnya terlalu kecil. Untuk memilih pendonor perlu ketelitian mendekati 100 persen,” papar salah seorang anggota tim dokter yang menangani Bilqis, Prof Dr dr Sumantri di Semarang, Jawa Tengah.
Dikatakan pula olehnya bahwa pendonor dari pihak lain pun tak masalah. Hal itu beda dengan cangkok sumsum tulang belakang yang harus dari keluarga sedarah. “Keluarga dekat pun tak mengapa,” jelasnya.
Donor akan diperiksa livernya secara detail, volume jaringannya akan diambil berapa.
Hati pendonor akan diambil 20 persen sampai 25 persen pada pasien. Setelah dicangkokkan, maka selama 1 hingga 2 pekan, liver baru akan tumbuh.
“Untuk pendonor hampir 0 persen efek sampingnya. Jadi tidak ada efek samping kecuali rasa sakit,” terang Sumantri.
Waktu operasi pencangkokkan sepanjang 12 hingga 14 jam. Setelah operasi maka pasien akan dimasukkan ruang intensive care selama 2 pekan. Ditambkan oleh Sumantri, hingga kini RSUD dr Kariadi sudah melakukan operasi cangkok terhadap dua pasien.
Yang pertama adalah Ulung asal Semarang yang saat ini sudah sehat. Yang kedua adalah Alfaridzi yang akhirnya meninggal dunia karena terjadi komplikasi padahal operasi cangkoknya berhasil. Berapa biaya operasi cangkok hati ini?
“Sekira Rp 300 hingga Rp 400 juta. Operasi ini dipercepat karena dananya sudah tersedia,” ucap Sumantri.
(Muhammad Saifullah )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.