BANDUNG - Di antara banyak wartawan di Kota Bandung, ada satu wartawan senior yang masih tetap eksis dari zaman Orde Baru hingga sekarang. Wartawan tersebut adalah Chevy Ganda (51). Sudah 35 tahun bapak dua anak yang saat ini tercatat sebagai wartawan Harian Pos Kota ini, terus bekerja di lapangan mencari berita.
“Saya mulai mengenal dunia jurnalistik pada tahun 1975. Waktu itu, saya menjadi penulis lepas di Harian Suara Karya. Tulisan-tulisan saya dulu berkisar soal budaya, puisi, dan cerpen, kata Chevy saat ditemui okezone,” Selasa (9/2/2010) sore.
Chevy Ganda kemudian memulai karirnya di Harian Pos Kota pada tahun 1980. Ia menjadi koresponden Pos Kota untuk wilayah Jawa Barat. Menurut Chevy, saat dirinya menjadi bekerja di Pos Kota, jumlah wartawan di Bandung masih sedikit.
Di Bandung dulu itu hanya ada sekitar 30 wartawan yang terdiri dari wartawan lokal dan nasional. "Saya termasuk wartawan nasional yang kantor pusatnya di Jakarta. Kalau koran lokal paling Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Gala, Mandala, Jayakarta, Berita Buana, dan Berita Yuda. Kalau yang nasional, Kompas, Pos Kota, dan Sinar Harapan," terang Chevy.
Zaman dulu, kata Chevy, menulis berita tidak seperti sekarang yang sudah canggih dengan teknologi email. Setelah meliput, Chevy mengaku harus menuangkan tulisan dengan menggunakan mesin tik. Selain itu, kata dia, hasil jepretan kamera juga harus dicetak dulu. Setelah naskah diketik dan foto dicetak, kata dia, dikirim via angkutan 4848 ke Jakarta.
Kalau naskah yang dibutuhkan Jakarta harus cepat, saya dan teman-teman wartawan nasional lainnya biasanya mencari telepon umum. Di Bandung dulu pusatnya di Kandatel. Kemudian, berita dibacakan dan ditulis ulang oleh redaktur di Jakarta. Kalau beritanya tidak perlu cepat, saya kirim lewat jasa angkutan 4848 yang kantornya di Jalan Viaduct, kata Chevy.
Selain lewat jasa angkutan 4848, kata Chevy, biasanya naskah dan foto dikirim juga lewat jasa kereta api dan pesawat terbang. Kalau pesawat, kata dia, biaya pengirimannya sekitar Rp5.000. Tapi kalau lewat kereta api, dia cukup memberi uang kepada masinis.
“Nantinya orang Jakarta yang mengambil naskah dan foto di bandara atau stasiun kereta api,” ujar Chevy
Chevy kemudian mengisahkan suka dukanya menjadi wartawan pada zaman Orde Baru. Menurutnya, pada masa itu menjadi wartawan ibarat mengikuti olahraga panjat tebing. Artinya, kata dia, pekerjaan yang menentang bahaya tapi mengasyikan. Saat itu, lanjut dia, wartawan harus pintar-pintar mengemas berita agar bisa selamat.
“Olahraga panjat tebing juga ada seninya. Bagaimana bisa mencapai ketinggian, tapi kita tetap selamat. Artinya ada seni yang harus kita kuasai. Nah, saat itu, pekerjaan wartawan juga seperti itu, penuh tekanan dari penguasa, makanya harus memakan seni agar bisa selamat,” kata Chevy.
Lebih jauh Chevy mengatakan, pada zaman Orban dikenal istilah Laksus Puskopkamtibda. Tugasnya, lanjut dia, mengawasi gerak-gerik wartawan. Jika ada peristiwa yang dinilai merugikan negara, terutama yang berhubungan dengan TNI (dulu ABRI) wartawan ditekan agar tidak memberitakan peristiwa tersebut.
“Kalau ada yang memberitakan, wartawannya dipanggil dan diinterogasi. Untungnya, saya belum pernah mengalami hal itu. Tapi beberapa teman pernah yang diamankan dan diinterogasi gara-gara masih memberitakan peristiwa yang dilarang diberitakan,” kata Chevy.
Lebih jauh Chevy mengatakan, saat ini kehidupan pers, khususnya di Kota Bandung sudah bebas. Wartawan masih bisa memberitakan peristiwa apa pun, tanpa pengawasan ketat seperti zaman Orde Baru. Ibarat olahraga, saat ini pekerjaan wartawan sama dengan olahraga Thaiboxing.
“Sekarang saat zaman reformasi, tidak seketat dulu. Wartawan bisa bebas memberitakan apa saja, tanpa pengawasan yang ketat. Teknologi pengiriman berita juga sudah canggih,” tandas Chevy.
Disinggung organisasi wartawan yang ada sekarang, Chevy mengatakan, masih tetap belum bisa menyentuh kesejahteraan wartawan, termasuk organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). “Organisasi wartawan tetap tidak bisa menyentuh kesejahteraan wartawan, karena berurusan dengan pemilik media,” kata Chevy.
Hingga saat ini, Chevy masih terus bertahan di lapangan mencari berita. Meski pernah ditawari masuk kantor di Pos Kota Jakarta, Chevy mengaku menolaknya. “Saya lebih enjoy menjadi wartawan di lapangan,” pungkas Chevy.
(Fitra Iskandar)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.