BANGKOK - Warna, Lambang Politik dan Kebingungan Memilih Baju Dalam filosofi masyarakat kuno Thailand, setiap warna melambangkan hari tertentu. Namun, kehadiran kelompok politik Red Shirt dan Yellow Shirt mulai menggeser filosofi tersebut.
Menyesuaikan warna baju dengan nama hari menjadi adat yang sangat kuat dalam kalangan masyarakat Thailand. Bagi mereka, setiap hari dalam satu minggu memang dilambangkan dengan warna tertentu.
Hari Senin akan dilambangkan dengan kuning, Selasa pink, Rabu hijau, Kamis identik dengan oranye, Jumat merupakan hari biru, Sabtu akan diasosiasikan dengan ungu sedangkan Minggu adalah surga bagi merah.
Melihat adat seperti ini maka jangan heran bila pada hari Senin banyak sekali warga Thailand yang mengenakan baju berwarna kuning dan begitu seterusnya. Kebiasaan memadupadankan warna dengan hari memang mulai ditinggalkan tapi masih banyak warga di sana yang kokoh melestarikan kebudayaan tersebut.
Masyarakat Thailand bahkan percaya warna keberuntungan akan sangat ditentukan oleh hari lahir. Jadi, jika seseorang lahir pada hari Jumat dia akan sering memakai baju biru agar dinaungi keberuntungan.
Namun, berbagai pandangan soal warna di kalangan masyarakat Thailand berubah sejak Perdana Menteri Thaksin Shinawatra dikudeta militer pada September 2006 lalu. Bagi mereka, warna bukan lagi identik dengan nama hari ataupun keberuntungan tapi berkembang menjadi garis politik yang mereka pilih.
Semua itu diawali dengan munculnya kelompok Red Shirts (Kaus Merah). Di Thailand, warna merah kemudian identik dengan pengikut setia Thaksin yang kebanyakan datang dari kalangan petani dan warga Thailand Utara.
Red Shirts memiliki tandingan pada akhir 2008. Gerakan anti-Thaksin yang digalang kaum intelektual dan warga perkotaan memilih warna kuning sebagai bentuk perlawanan.
Warna terang inipun kemudian menjadi cerita utama saat kelompok Yellow Shirts (Kaus Kuning) menduduki bandara pada Desember 2008 dan memaksa pemerintahan Thailand yang saat itu didukung aliansi pro-Thaksin turun dari kekuasaannya.
Kuning dan merah kemudian menghiasi perjalanan politik Thailand yang penuh gejolak selama empat tahun terakhir. Kedua warna ini juga menjadi simbol perjuangan masing-masing kelompok dan 'memaksa' warna-warna lain yang biasa menghiasi hari-hari Thailand tenggelam.
Begitu tajamnya persaingan antara Yellow Shirts dan Red Shirts di Thailand bahkan berakibat pada kebingungan banyak orang, terutama turis asing dalam memilih warna baju yang akan mereka pakai di Thailand.
Dalam situs-situs soal pariwisata Thailand, banyak sekali turis asing yang berkonsultasi soal warna baju yang akan mereka pakai. Mereka khawatir akan diperlakukan beda jika memakai merah atau kuning.
Persaingan kaus merah dan kuning juga berakibat pada terbatasnya ekspresi kecintaan supporter sepak bola terhadap tim mereka. Banyak warga Thailand, terutama yang anti-Thaksin, enggan memakai seragam tim sepak bola kesayangan mereka seperti Manchester United (MU), Liverpool, Arsenal ataupun AC Milan yang seragamnya didominasi merah.
Padahal, Thailand merupakan salah satu kantung penggemar MU terbesar di Asia. Uniknya, karena alasan keamanan dan menghindari perselisihan politik, warga Thailand kemudian lebih senang memilih pink atau biru langit sebagai warna favorit baju mereka. (Koran SI/Koran SI/Koran SI)
(Rani Hardjanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.