TANGERANG - Kisah cinta abadi Mantan Presiden Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie dengan sang istri, Hasri Ainun Habibie, tidak sama dengan kisah cinta Romeo dan Juliet karya William Shakespeare yang syarat dengan tragedi dan berakhir dengan bunuh diri.
Dalam cerita cinta Habibie dan Ainun tidak ada pertengkaran. Selama 48 tahun 10 hari, sejak menikah pada 7 Maret 1962, pasangan itu selalu hidup bersama dalam suka dan duka. Mereka tidak pernah terpisahkan oleh sang waktu dan tempat, baik secara fisik maupun batin. Sampai yang Maha Kuasa menjemput Ainun melalui kankernya, mereka tetap saling berhubungan dengan doa.
"Tujuh Maret 1962, melalui pandangan mata merangsang bibit yang kau tempatkan di dalam hati kami, murni sejati, sempurna dan abadi, dengan taqwa dan iman akhirnya kami bisa bersatu," ujar sang profesor dalam kuliah umum bertajuk 'Teknologi dan Demokrasi,' di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, kemarin.
Pernah suatu ketika, Habibie ditegur Ainun karena bekerja sampai larut malam hingga lupa makan dan minum. Karakter Habibie yang pekerja keras itu, sempat membuat Ainun khawatir akan kesehatan Habibie. Sebagai seorang pribadi yang mengikuti pola hidup sehat, Ainun marah dengan Habibie karena tidak mendengarkan nasihatnya.
"Karena selalu bekerja keras, disuruh istirahat oleh ibu saya tidak mau. Saat disuruh minum air putih dua liter, saya hanya minum satu liter. Ibu suka marah-marah kalau saya minum kurang dari dua liter per hari. Setiap kali bertengkar, itu pun karena saya yang bandel," kenang Habibie.
Sebelum Ainun masuk rumah sakit, tambah Habibie, Ainun sempat memimpin rapat. Setelah didiagnosa oleh dokter, ternyata Ainun mengidap kanker stadium empat. Mengetahui hal itu, Habibie mengaku sempat mengalami syok karena sebelumnya Ainun tidak pernah mengeluhkan sakit yang dideritanya. Saat itu, Habibie mengaku sangat takut ditinggal Ainun untuk selama-lamanya.
"Secara tiba-tiba pergi, merupakan nasib manusia yang tidak bisa diubah. Tadinya satu, bertemu dengan satu menjadi dua. Dua ditinggal satu, menjadi satu. Karena harus pergi duluan dan semua manusia mengalami ini. Ibu bagaikan software, jiwa, batin, naluri seseorang menjadi satu. Itu lah ibu," terang pria kelahiran Parepare 25 Juni 1936 itu.
Saat ditinggal Ainun, Habibie mengaku hidupnya bagai di tengah samudera emosi. Dimana tidak ada lagi yang memarahinya karena bekerja hingga larut malam dan menegurnya saat minum kurang dari dua liter sehari. "Manis pahit hidup terus dilalui memasuki samudera emosi yang menenggelamkan saya kelautan saat ditinggal ibu," tambahnya.
(TB Ardi Januar)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.