JAKARTA - Partai Demokrat menegaskan tidak pernah melakukan upaya mempengaruhi siapapun, termasuk kepala daerah dari partai politik (parpol) lain untuk bergabung.
Apabila ada kepala daerah yang memutuskan bergabung dengan Demokrat, hal tersebut didasarkan atas keinginan yang bersangkutan. "Kami tidak pernah mempengaruhi kepala daerah untuk masuk Demokrat. Partai kita adalah partai terbuka," ujar Ketua DPP Partai Demokrat Ignatius Mulyono ketika dihubungi di Jakarta, Jumat (15/4/2011). .
Dia menduga banyak politikus tidak terkecuali yang sedang menjabat kepala daerah karena menilai Demokrat sebagai partai yang menjanjikan.
Bayangkan, kata Ignatius, Demokrat pada 2004 mempunyai 57 kursi di parlemen, lalu meningkat drastis dengan meraih 148 kursi pada 2009. "Ke depan akan semakin besar," ujarnya.
Dengan realitas kekuatan politik yang dimiliki Demokrat, Ignatius menilai sebagai suatu kewajaran apabila politikus dari parpol lain ingin masuk ke Demokrat.
"Jadi kami sama sekali tidak menarik-narik orang untuk masuk Demokrat," ujar Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR ini.
Dia tidak setuju dengan penilaian politikus yang pindah parpol sebagai "kutu loncat". Pasalnya, setiap orang mempunyai hak untuk memilih parpol yang dianggapnya tepat sebagai tempat mengekspresikan pandangan politiknya. "Itu hak asasi setiap orag, jangan lantas mempersalahkan Demokrat," ujarnya.
Terkait rencana kepindahan kader Partai Amanat Nasional (PAN) Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf Effendy ke Demokrat, Ignatius melihat sebagai sesuatu yang lumrah.
"Mungkin Dede ingin maju sebagai gubernur lalu mencari 'kapal' yang lebih besar," ujarnya.
Ignatius menambahkan, kalaupun Dede bergabung ke Demokrat lalu mengukir prestasi dalam menjalankan tugasnya maka hal itu juga menjadi kebanggaan PAN, sebagai partai yang telah membesarkannya.
Kendati sebagai partai terbuka, Ignatius menegaskan Demokrat akan selektif dalam menerima kader baru dengan melihat latar belakangnya.
(Hariyanto Kurniawan)