Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Ali Ghufron, si anak penjahit yang jadi Wamenkes

Solichan Arif (Koran Sindo) , Jurnalis-Sabtu, 15 Oktober 2011 |09:12 WIB
Ali Ghufron, si anak penjahit yang jadi Wamenkes
Ali Ghufron Mukti. (vimeo.com)
A
A
A

Sindonews.com - Setelah sebelumnya Wakil Presiden Boediono dan Panglima TNI Agus Suhartono, daerah tingkat II Blitar kembali menjadi buah bibir. Giliran Prof dr Ali Ghufron Mukti yang "kebetulan" berasal dari Blitar menambah deretan orang penting di negeri ini.

Ghufron begitu biasa dipanggil, dipilih Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) dalam Kabinet Indonesia Bersatu II. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta yang juga sebagai profesor termuda itu dipercaya mampu membawa masyarakat Indonesia ke arah kehidupan yang lebih sehat.

"Sebagai saudara dan warga Blitar, kami turut bangga jika adik kami Ghufron (Ali Ghufron Mukti) menjadi salah satu orang penting di negeri ini," tutur Nafisatul Usfati (51) kakak kandung Wamenkes Ali Ghufron, Jumat 14 September 2011.

Keluarga di Blitar, khususnya di Kelurahan Gedok, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar mengetahui pertama kali Prof Dr Ali Ghufron Mukti dipilih sebagai Wamenkes dari pemberitaan media. Selebihnya, komunikasi hanya dilakukan antar saudara dan kerabat dekat.

Ali Ghufron Mukti lahir tanggal 17 Mei 1962 di salah satu rumah di ujung  Jalan Manggar, Kelurahan Sukorejo, Kota Blitar. Sebuah ruas jalan yang berada di sekitar komplek pasar tradisional Kota Blitar.

Ukuran (jalan) yang tidak terlalu lebar ditambah pengguna yang lumayan padat membuat lalu lintas jalan tempat kelahiran selalu terlihat ramai  berdesak-desakan. Debu lembut yang bebas beterbangan juga menjadi ciri khas suasana permukiman di sana.

Ghufron anak kedua dua dari pasangan suami istri almarhum Imam Mukti dan Siti Qonaah. Imam Mukti seorang pedagang kain yang berasal dari Kabupaten Ngawi.

Sementara istrinya seorang ibu rumah tangga biasa yang lebih banyak menyediakan waktu untuk mengurusi anak-anaknya. Kendati demikian Siti Qonaah yang kini hidup bersama Aki Ghufron itu, terkadang ikut membantu pekerjaan suaminya.

Pagi hari Mukti harus berjualan kain di pasar sambil menerima jasa jahitan pakaian celana dan sejenisnya. Untuk menambah pemasukan, ia juga membuka jasa penyepuhan emas, yakni ketrampilan membuat logam biasa menjadi berkilau layaknya logam mulia (emas).

Sebab di jaman itu masih sedikit orang yang mampu menghiasi jemari, pergelangan tangan dan leher dengan perhiasan emas. Karenanya, banyak yang  memilih menggunakan logam sepuhan yang harganya lebih murah.

"Sementara pada sore hari bapak juga menjadi guru mengaji di sekolah agama (diniyah) tak jauh dari rumah," kenang Usfati.

Penghasilan yang pas-pasan, ditambah beban biaya sekolah empat orang anak yang tidak kecil, membuat keluarga pedagang ini selalu berpenampilan sederhana. Mereka tidak bisa seenaknya menyandang baju bagus, atau bepergian kesana kemari untuk menghamburkan uang.

Setiap pengeluaran harus benar-benar dihitung sesuai dengan kemampuan pendapatan. Kondisi ekonomi yang serba terbatas itu membuat Ghufron tidak menikmati sepenuhnya masa kanak-kanak sebagaimana anak di usianya.

Sejak masih duduk di sekolah dasar, yakni sebelum atau sesudah sekolah, profesor yang kini banyak bepergian ke luar negeri itu, harus menyempatkan diri membantu orang tuanya. 

"Ya jualan kain, ya membantu menyiapkan sepuhan emas. Yang pasti setiap hari harus membantu. Karenanya saya kadang tidak menduga jika sekarang dia jadi orang," papar Usfati yang berprofesi sebagai guru pegawai negeri sipil (PNS) taman kanak-kanak (TK) di Kota Blitar.

Namun bukan berarti Ghufron mengabaikan kewajibanya sebagai pelajar. Ayah tiga orang anak, dengan anak sulung yang baru saja masuk Fakultas Kedokteran UGM itu mampu menunjukkan diri sebagai siswa yang berprestasi.

Sejak SD segala prestasi yang terkait dengan kepandaian mata pelajaran disabetnya. Ghufron selalu menjadi bintang kelas. Soal pelajaran dan kegiatan yang bersifat organisatoris, ia tidak pernah kalah dari teman-temanya.

Bahkan pada saat berada di sekolah menengah pertama (SMP), bocah laki-laki yang cenderung pendiam itu menjadi "pelanggan" beasiswa. Prestasi itu terus dipertahankannya hingga menginjakkan kaki di bangku SMA.

"Kalau saya melihat, memang dasarnya dia pinter. Di depan banyak orang jarang terlihat belajar," katanya sembari tersenyum.

Laki-laki yang sejak kecil dipaksa oleh keadaan selalu bisa mandiri itu selalu memilih berkumpul dengan semua, ketika memang di rumahnya sedang banyak orang.

Namun dengan diam-diam, Ghufron akan membuka buku-buku pelajarannya, ketika semua orang mulai mendengkur di atas masing-masing tempat tidur. Uswati mengaku tidak satu dua kali melihat prilaku "aneh" adiknya.

"Biasanya ia belajar sehabis salat malam. Kalau tidak begitu sebelum subuh, dia lebih dulu bangun. Mungkin suasana tenang membuatnya mudah terserap," tuturnya.

Keluarga mulai kehilangan cerita soal Ghufron, ketika Profesor termuda di UGM ini mulai masuk fakultas kedokteran. Cita-cita hidup yang menurut Uswati selalu diucapkan adiknya sejak masih berada di bangku sekolah dasar.

"Katanya, cita-cita dokter itu mulia. Karena membantu orang yang mengalami kesusahan," terangnya.

Lagi lagi keterbatasan ekonomi yang membuat mahasiswa Ghufron tidak mampu memiliki buku-buku materi kuliah kedokteran yang terkenal dengan harganya yang menjulang.

Untuk bisa mengetahui ilmu yang terkandung dalam pustaka itu, Ghufron memilih mendatangi rumah dosen-dosenya. Ia barter pengetahuan yang ia peroleh dengan mengajari anak-anak dosen mengaji.

"Komunikasi tambal sulam itu dilakukannya hingga lulus kuliah," katanya. 

Uswati melihat tidak ada yang berubah dari diri Ghufron. Penyuka soto dan penggemar lagu-lagu India itu tetap menjadi seorang yang peduli. Ghuforn selalu datang dan menanyakan keluhan setiap orang sakit yang secara tak sengaja dijumpainya.

Setiap kali berbincang dengan keluarganya, Wamenkes ini selalu mengatakan ingin mempelajari penyakit di Indonesia, termasuk membantu orang-orang miskin yang hidupnya terjangkit penyakit.

Ia selalu membicarakan konsep program jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas) sebelum pemerintah secara resmi menggunakanya sebagai program nasional. Kalaupun saat ini, Ghufron hanya dua kali dalam setahun datang ke Blitar, semua itu karena kesibukan yang padat.

"Keluarga hanya berdoa semoga Pak Ghufron mampu memegang amanah ini (jabatan Wamenkes) dengan baik," harapnya.

Sementara rasa bahagia juga disampaikan keluarga SMA Negeri 01 Kota Blitar. Sebab Ali Ghufron Mukti tercatat sebagai alumni tahun 1982 jurusan IPA dengan nomor induk siswa 4327. Menurut Hariyanto guru sekaligus teman seangkatan Ali Ghufron di SMA Negeri 01, satu lagi putra terbaik SMA Negeri 01 selain Wapres Boediono, Panglima TNI Agus Suhartono dan Wakil Ketua KPK M Jasin.

"Kita turut bangga dengan terpilihnya Pak Ghufron sebagai Wamenkes," ujarnya.



(Hariyanto Kurniawan)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement