TERNATE - Gunung Gamalama di Maluku Utara merupakan salah satu gunung paling aktif di Indonesia. Sejarah mencatat, letusan gunung setinggi 1.715 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu pernah menelan ratusan korban jiwa.
Tipe letusan Gunung Gamalama umumnya vulkano stomboli yang berlangsung di kawah utama. Erupsi freato magmatik dengan lontaran bom berstruktur (kerak roti) terkadang diakhiri lelehan lava panas (aliran piroklastik).
Gunung yang diambil dari kata Kie Gam Lamo berarti Negeri yang Besar itu tercatat sudah meletus lebih dari 60 kali. Letusan pertama yang terekam para ilmuwan terjadi pada 1538. Belum ada catatan apakah saat itu letusan menimbulkan korban jiwa atau tidak.
Letusan terbesar lain terjadi pada pada 1775 yang melenyapkan Desa Soela Takomi. Lebih dari 140 orang tercatat tewas. Dahsyatnya letusan juga meninggalkan dua danau, yaitu Tolire Jaha dan Tolire Kecil di Desa Soale Takomi yang berjarak sekira 18 kilometer dari pusat Kota Ternate.
Letusan besar Gunung Gamalama lain terjadi pada 1908 yang menghasilkan leleran lava batu angus hingga ke pantai. Sisa-sisa letusan bisa dilihat di Kelurahan Kulaba, Kecamatan Ternate Utara. Letusan tersebut memakan puluhan korban jiwa.
Letusan lain terjadi pada 1988. Saat itu awan panas keluar ke arah utara dan menyapu ratusan rumah di Kota Ternate.
Letusan yang sama juga terjadi pada 1991, 1993, 2003, dan akhir 2011 ini.
Dari sejarah letusan inilah, Pemerintah Kota Ternate sudah semestinya merelokasi warga yang bermukim di daerah rawan seperti di Kelurahan Tubo, Kulaba, Loto, dan Togafo.
Wakil Wali Kota Ternate Arifin Jafar mengatakan, saat ini Pemkot Ternate sedang melakukan kajian teknis di daerah yang dianggap rawan. Pemkot tidak mudah merelokasi warga karena terkait dengan kepemilikan tanah dan mata pencarian warga.
(Anton Suhartono)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.