YOGYAKARTA - Pemerintah Kota Yogyakarta ternyata belum menyosialisasikan penataan Jalan Malioboro sebagai kawasan pedestrian atau pejalan kaki.
Banyak stakeholders yang berkepentingan dengan Jalan Malioboro, seperti tukang becak, andong, pelaku seni, pedagang kaki lima (PKL), dan juru parkir, belum mengatahui rencana pasti serta konsep penataan tersebut. Akibatnya, mereka menjadi resah.
Sekertaris Lembaga Pemberdayaan Komunitas Kawasan Malioboro (LPKKM), Edi Susanto, mengatakan, anggota komunitas Malioboro sebenarnya mendukung rencana tersebut. Namun, harus dikoordinasikan agar tidak ada pihak yang dirugikan.
“Bila nantinya Malioboro menjadi kawasan pedestrian kami khawatir akan mematikan usaha. Karena itu, keinginan kami harus tetap diakomodasi pemkot. Semua anggota komunitas juga tidak boleh ada yang tercecer,” kata Edi, Rabu (21/11/2012).
Menurut Edi, pemkot harus lebih intensif mengajak komunitas Malioboro berdialog. Pemahaman secara utuh tentang rencana itu harus sampai ke telinga para pemangku kepentingan. Sebagai konsekuensinya, komunitas Malioboro berkomitmen tidak akan menambah lagi anggota.
“Kami menjaga komitmen, tidak akan pernah menambah orang di komunitas untuk menjaga kestabilan. Sehingga, bila terjadi perubahan fisik tidak terjadi perubahan yang signifikan,” tukasnya.
(Anton Suhartono)