YOGYAKARTA - Jamasan pusaka milik Keraton Yogyakarta pada tahun ini berlangsung selama dua hari. Perawatan benda pusaka seperti keris dan tombak harus dilangsungkan 27-28 November 2012. Hal itu karena jumlah koleksi pusaka yang dimiliki mencapai 200 buah.
Seperti pada penyelenggaraan perawatan di setiap tahunnya, sebagai Raja Sri Sultan HB X kali ini juga menjamas Tombak Kyai Ageng atau yang juga disebut Kyai Pleret di hari pertama jamasan diselenggarakan.
"Kemarin saya Njamas Kyai Ageng," tandas HB X di Keraton Yogyakarta, Rabu (28/11/2012).
Sementara itu di hari kedua jamasan yang berlangsung secara tertutup hanya dilakukan oleh abdi dalem di Pendopo Bangsal Manis yang ada di depan selatan Gedong Jene tempat biasa menerima tamu kenegaraan.
"Ini memang tertutup tidak boleh difoto. Ini bagian dari kebijakan internal, secretlah. Untuk menjaga terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan," tambah lelaki yang memiliki nama asli Aning Sunindyo tersebut.
Prosesi jamasan kemarin diawali dengan mengeluarkan pusaka dari Gedong Pusaka yang berada di belakang Gedong Jene dan Bangsal Kasatriyan. Seperti jamasan pada umumnya, pembersihan diawali dengan pencucian dengan mempergunakan air jeruk untuk menghilangkan karat.
Proses kemudian dilanjutkan dengan pelapisan warang atau arsenik untuk mengeluarkan pamor dari benda-benda pusaka yang usianya sudah tidak bisa dikatakan muda tersebut. "Kalau yang paling sepuh ya Kyai Pleret. Tapi pusaka-pusaka ini mulai dari peninggalan HB I," tandas Penghageng II Pura Raksa atau urusan keamanan KRT Suryohadiningrat.
Menurut mantan Komandan Kodim Sleman tersebut, proses jamasan biasanya dimulai pukul 09.00 hingga 14.00 WIB. Hanya saja pada jamasan hari kedua, prosesi diundur karena kehadiran Putra Mahkota Kerajaan Norwegia Pangeran Haakon Magnus bersama Putri Mahkota Mette Marift.
Seperti pada tahun-tahun lalu, memasuki Bulan Muharam atau bulan pertama Tahun Islam Keraton Yogyakarta menggelar ritual Jamasan Pusaka. Kegiatan perawatan dengan pembersihan tersebut juga dilakukan untuk koleksi kereta.
Khusus untuk Kereta Keraton, prosesi jamasan bersifat terbuka dan dapat diikuti masyarakat secara langsung. Bahkan air sisa jamasan kereta selalu menjadi rebutan masyarakat yang percaya akan manfaat dari air sisa pencucian kereta.
(Susi Fatimah)