JAKARTA - Keisengan Arief Suditomo melamar untuk sebuah lowongan wartawan di koran nasional berbahasa Inggris ternyata berbuah manis. Arief justru jatuh cinta pada jurnalistik, dunia yang membesarkan namanya dan kini mengantarkannya pada tampuk pimpinan di RCTI.
Mengawali kariernya sebagai wartawan koran nasional, skill jurnalistik Arief ditempa habis-habisan. Ketika itu, Arief baru saja memegang gelar sarjana hukum dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. Tidak pernah terbersit sedikit pun di benaknya akan menjadi jurnalis, apalagi hingga menjadi pemimpin redaksi seperti sekarang.
Meski demikian, Arief yang ketika itu buta akan dunia jurnalistik dan kewartawanan justru mendapatkan pencerahan ketika menjalani keisengannya. Liputan demi liputan memberikannya banyak pengetahuan dan pengalaman baru.
"Dan saat itulah saya mengetahui inilah yang ingin saya lakukan dan saya cintai. Bagi saya, profesi ini adalah sebuah keberuntungan sekaligus tuntunan Tuhan pada saya," ujar Arief kepada Okezone, belum lama ini.
Karena ketidaksengajaan itulah, Arief sering kali menyampaikan kepada anak-anak muda yang ditemuinya di berbagai kesempatan, sejak awal, begitu kita mengetahui passion, bakat dan keinginan kita, kejar itu semua. Menurut Arief, dia bukanlah orang yang mengetahui dan mengejar passionnya sejak dini, tetapi mendapatkan kecintaan pada jurnalistik dan mendulang sukses dari dunia itu tanpa proyeksi, tanpa rencana.
"Bayangkan saja, saya lulus kuliah itu umur 24 tahun. Harusnya umur itu sudah dalam proses seseorang menemukan arah mimpi-mimpi hidupnya," tambahnya.
Sekira tiga tahun di media cetak, Arief beralih ke media televisi. Pada 1995, dia bergabung dengan divisi pemberitaan salah satu stasiun televisi nasional sebagai reporter. Tugas Arief sebenarnya sama, meliput dan melaporkan berita, hanya saja kini dalam format berita televisi. Arief yang memiliki dasar media cetak pun harus belajar dan beradaptasi dengan gaya baru sebagai jurnalis televisi.
Di sinilah cikal bakal perjalanan Arief di dunia penyiaran televisi. Sekira setahun menjadi reporter, Arief pun dipercaya untuk membawakan program siaran berita. Grogi tentu saja mendera. Bagi Arief itu adalah hal yang wajar, yang penting adalah seberapa siap dirinya.
Menjadi presenter berita, menurut Arief bukanlah sekadar membacakan berita dari teleprompter. Lebih dari itu, seorang presenter berita juga harus menguasai diri, materi yang akan disampaikan, dan isu yang sedang dibahas. Tentu saja, seorang presenter berita juga perlu latihan dulu sebelum benar-benar on air di kamera.
"Kalau enggak siap seperti itu dan tiba-tiba menghadapi kesulitan teknis, maka seorang presenter bisa blank," kata Arief.
Arief punya cerita unik soal penguasaan diri di depan kamera saat siaran. suatu saat, ketika dia membawakan program berita dengan rekannya, Ira Kusno, ada lalat masuk ke studio. Lalat itu lalu hinggap di alis Ira. Selama momen itu Arief pun menahan tawa, apalagi melihat Ira mengibas-ngibaskan tangannya di bawah meja siaran.
Ayah dua putra ini ingat, segmen yang dibacakan Ira pun nampaknya tidak kunjung selesai. Ira yang juga menahan tawa, akhirnya terlihat seperti orang yang menahan tangis. Di earphone, Arief dan Ira bisa mendengar program director mereka marah-marah sambil mengingatkan mereka untuk menahan diri, mengambil napas agar tenang, dsb. Kemudian ketika tiba gilirannya membaca berita, Arief masih tidak bisa menahan tawa. Ketika mereka benar-benar tidak bisa menahan tawa, akhirnya keduanya "dibebaskan" dengan segmen iklan.
"Sebenarnya itu enggak lucu, ya. Tapi karena ada orang ketawa di studio, itu menjadi sangat menular. Usai siaran kami berdua dimarahi habis-habisan. Dan telepon masuk ke redaksi pun sangat banyak memprotes kami berdua," kenangnya.
Arief kemudian bergabung dengan RCTI pada 2003. Di sini dia menjajal dunia baru, programming. Pria kelahiran 14 Agustus 1968 ini ingat betul sulitnya menyesuaikan diri dari divisi news ke programming, sebuah divisi yang dulu sering menjadi sasaran komplainnya. Tapi kesulitan itu justru membuatnya tertantang. Baginya, hidup ini sangat dinamis dan penuh penyesuaian.
Dari media cetak, Arief beralih ke media televisi. Dari reporter, Arief menapaki jenjang news presenter. Belum lagi gaya, teknologi, dan karakter kerja di tiap media berbeda-beda. Bagi Arief itu adalah hal-hal yang harus dia lalui dan mampu jalani.
Memimpin awak redaksi televisi sebesar RCTI juga membutuhkan penyesuasian tersendiri. Arief mengilustrasikan, jika awalnya dia adalah bagian dari editorial policy, sekarang dialah yang membuat editorial policy tersebut. Arief pun menjadi orang yang bertanggung jawab atas semua kebijakan di RCTI, semua berpusat pada dirinya.
"Perubahan ini akan terus berlanjut. Saya enggak tahu lagi tugas apa yang akan dibebankan dan dipercayakan kepada saya. Tetapi, kalau kita ingin maju, ya, kita harus mau bergelut dengan berbagai hal, mengatasi berbagai hal, menghadapi ketakutan, dan sebagainya. Kalau enggak, maka kita akan dimakan habis oleh ketakutan itu sendiri. Kita harus menghadapi semua tantangan dengan keberanian, keikhlasan, dan penuh cinta. Jika tidak, kita akan hancur," paparnya.
Dua puluh tahun bergelut dengan dunia jurnalistik televisi dan penyiaran tidak selalu membuat Arief merasa sukses. Dia mengakui, satu dua kali perasaan itu memang hinggap. Tetapi Arief lebih sering berpikir bahwa dia bisa melakukan lebih banyak dan lebih baik lagi.
Salah satu proyeksi Arief adalah membawa produk news di RCTI masuk ke prime time. Arief yakin, jika hal itu tidak terwujud di masa kepemimpinannya, maka suatu saat keinginannya itu akan tercapai. Guna mewujudkan cita-cita itu, Arief mengaku, tidak memaksakan diri dan timnya dengan berkata, "Kita harus masuk prime time!" Tetapi, Arief hanya mengajak rekan satu timnya untuk mencapai nilai maksimal pada poin-poin pendukung yang akan mengantarkan mereka ke prime time seperti membuat program dan kreativitas yang bagus, rating yang baik, serta audience share yang tinggi.
"Untuk mengejar elemen-elemen itu saya juga butuh teman-teman yang masih muda, tim kreatif, riset, dan sebagainya. Di media cetak mungkin masih banyak tenaga yang sudah tua. Tetapi di industri penyiaran, tenaga-tenaga mudalah yang sangat kita butuhkan karena sangat dinamis dan menuntut kreativitas," tutur peraih Panasonic Awards bagi News Anchor pada 1999, 2001, dan 2002 itu.
Keberhasilan Arief juga tidak lepas dari dukungan keluarganya yakni sang istri, Susan Karamoy Suditomo dan kedua putra Arief, Sena Suditomo dan Raul Suditomo. Meski belum memahami benar profesi apa yang dijalani sang ayah, Arief yakin, kedua buah hatinya mengetahui bahwa dia melakukan sesuatu yang pada akhirnya akan membuat mereka bangga.
"Saya yakin dalam pertemuan-pertemuan yang kuantitasnya terbatas, mereka memahami hal itu," ujarnya sambil tersenyum.
Kini, hari-hari Arief lebih banyak disibukkan dengan hal-hal manajerial. Arief tidak menampik, kerinduan akan liputan di lapangan pun sering kali menyeruak. Hanya saja, dia tidak memiliki cukup waktu untuk merealisasikannya. Untuk menyiasati kerinduan itu, Arief masih aktif mewawancarai tokoh-tokoh.
"Saya ingin mewawancarai Kapolri, banyak penjelasan yang ingin saya dapatkan dari dia. Selain Kapolri, saya juga ingin mewawancarai Nelson Mandela karena dia adalah tokoh yang tidak habis-habisnya memberikan inspirasi," imbuh Arief.
Overview Profesi Jurnalis Media Televisi
Industri penyiaran yang cukup matang di Indonesia membuat profesi di dunia penyiaran ini sudah makin dikenal publik. Salah satu profesi favorit yang diincar banyak anak muda adalah jurnalis televisi. Jurusan Komunikasi Massa dan Jurnalistik di berbagai kampus pun menyediakan pengetahuan spesifik tentang kualifikasi yang dibutuhkan untuk menjadi jurnalis televisi. Sebagai panduan, berikut selayang pandang tentang jurnalis televisi.
Plus Minus
Pemimpin Redaksi RCTI Arief Suditomo menilai, jurnalis adalah profesi yang sangat kuat (powerful), berpengaruh, dan penting. Pasalnya, apa yang dilakukan jurnalis adalah sesuatu yang pada dasarnya memanjangkan jangkauan panca indera masyarakat. Dan pada akhirnya, kata Arief, jurnalis tidak lagi menjadi mata-telinga tetapi juga menjadi alasan mengapa publik melakukan atau tidak melakukan sesuatu berdasarkan laporan yang kita sampaikan.
Arief mencontohkan, pekan lalu Presiden SBY menanam pohon di sekitar kawasan bandara Soekarno Hatta dan berpotensi menimbulkan kemacetan. Nah, laporan jurnalis tentang hal itu akan menjadi landasan seseorang melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Misalnya, mereka yang harus pergi ke bandara akhirnya berangkat lebih awal agar tidak terimbas penutupan jalan atau ekstrimnya, mengganti jadwal penerbangan.
"Bagi saya, informasi simpel itu akan sangat membantu banyak orang. Ini hanya sebagian kecil dari apa yang dilakukan jurnalis, termasuk jurnalis televisi," ujar Arief.
Selain itu, dengan menjadi jurnalis, kita juga bisa menjadi saksi sejarah. Arief mengambil contoh peristiwa tragedi Semanggi I dan II. Laporan-laporan wartawan tentang peristiwa itu pasti akan bermanfaat bagi masyarakat, setidaknya untuk menghindari daerah Semanggi, dan mengetahui kebenaran di balik peristiwa tersebut.
"Bisa menjadi saksi sejarah adalah alasan pribadi saya mencintai profesi ini. Coba bayangkan, berapa banyak orang yang memiliki kesempatan berada di tengah berbagai peristiwa penting di Tanah Air?" imbuhnya.
Meski demikian, jam kerja yang tidak jelas dan beratnya risiko yang harus ditanggung jurnalis menjadi sisi lain profesi tersebut. Arief mengenang, ketika berpacaran dulu, dia tidak ngapel setiap malam minggu layaknya pasangan yang bekerja dengan jam kantor yang jelas. Pertemuan dengan Susan, sang pacar yang kini menjadi istrinya, dilakukan kapan pun dia memiliki waktu libur.
Kini setelah menikah, sang istri sudah sangat memahami kebiasaan kewartawanan. Namun, yang belum terbiasa adalah kedua anak Arief, Sena dan Raul. Bagaimana tidak, begitu Arief sampai rumah, anak-anak sudah tidur. Atau ketika mereka bangun, Arief sudah tidak ada karena harus mengejar pesawat pagi.
"Mereka masih belum memahami mengapa ayah mereka tidak berada di lapangan bola seperti ayah teman-temannya. Tapi itu semua sebisa mungkin saya tebus dengan memberikan waktu berkualitas," imbuhnya.
Prospek Karier
Berkecimpung selama puluhan tahun membuat Arief yakin dunia jurnalistik televisi dan penyiaran sangat menjanjikan bagi kawula muda. Animo tinggi juga diperlihatkan anak-anak muda ketika Arief berbicara di berbagai forum di kampus-kampus Tanah Air. Bahkan, kata Arief, mereka juga sudah mengetahui dengan spesifik bidang apa yang akan mereka tekuni di dunia broadcasting misalnya produser, director, hingga investigative journalist.
"Industri ini sudah sangat well known, hingga pada detail-detail kecilnya. Saya bisa jamin, pekerjaan menjadi jurnalis, khususnya jurnalis televisi adalah suatu impian anak-anak muda. Dan saya cukup optimis ini adalah profesi yang akan mengantarkan mereka ke jenjang yang lebih tinggi lagi, lebih baik lagi, dan lebih bermanfaat bagi masyarakat," tuturnya.
Salah satu cara untuk mengejar passion menjadi jurnalis televisi ini adalah dengan mengikuti berbagai audisi presenter atau reporter televisi. Bagi Arief, ajang-ajang tersebut sangatlah berguna bagi mereka yang memang sudah mengetahui passionnya di dunia jurnalistik televisi. Terlebih, setelah terpilih mereka akan mendapatkan pelatihan dan penggemblengan yang hingga siap bersaing di dunia tersebut.
Persiapan menjadi jurnalis televisi
Prestasi menjadi pemimpin redaksi sebuah televisi nasional di usia muda tidak lantas membuat Arief tinggi hati. Bahkan, dia yakin, banyak anak muda yang mampu melakukan pekerjaaan lebih baik dari yang sudah dilakukannya. Kuncinya, kata Arief, hanya satu, yakni mencintai apa yang kita lakukan.
"Jika tidak ada cinta, akan susah, karena dunia jurnalistik televisi dan penyiaran ini adalah dunia yang sangat keras, baik dari internal maupun eksternal," katanya tegas.
Bagi Arief, karena sangat mencintai apa yang dia lakukanlah maka dia dapat bertahan sekian lama dan setia pada profesinya. Arief mengingatkan, banyak orang yang tidak mencintai apa yang mereka lakukan. Seseorang bisa jadi menjalani profesi karena mengejar status sosial, nominal materi tertentu, tuntutan lingkungan sekitar, dsb.
"Mereka menjalani banyak hal dan tidak menikmati. Sementara kita menjalani yang kita cintai dan mendapatkan bayaran atas itu. Saya sangat bersyukur, berapa banyak sih orang yang mencintai apa yang dia lakukan dan dibayar pula?" tuturnya.
Selain cinta, seseorang yang ingin menekuni dunia ini haruslah berpikiran positif dan proyektif. Pikiran positif diperlukan untuk bertahan di tengah kerasnya gempuran dan tekanan dari berbagai sisi di dunia jurnalistik televisi. Menurut Arief, jika kita dikuasai perasaan negatif sementara kita mendapat tekanan dari sana-sini, maka kita akan terbelenggu dengan rasa iri dan dengki sehingga tidak bisa maju.
"Kita enggak akan bisa belajar dari kesuksesan orang lain untuk mencapai kesuksesan sendiri. Kita juga cenderung mudah menyerah dan gagal dalam mencapai berbagai target," tutur penyuka masakan Indonesia ini.
Sementara itu, segi proyektif bermakna kita mengetahui pasti apa yang kita inginkan. Caranya, dengan memasang target spesifik. Arief mencontohkan, untuk membuktikan bahwa kita adalah wartawan handal, maka kita memasang target harus bisa menembus narasumber yang selama ini tidak bisa didekati atau mendapat liputan ekslusif sekian kali.
"Dengan begitu nilai kita di mata institusi dan masyarakat jadi lebih baik," imbuhnya.
Seseorang yang ingin memasuki dunia jurnalistik televisi, Arief mengimbuh, harus bersiap-siap karena dunia ini adalah industri yang cukup keras. Jika tidak siap, maka dia akan kaget melihat persaingan, etos kerja, dan dinamika yang harus mereka jalani sehari-hari. Dari segi skill, kita juga harus menguasai perkembangan beragam teknik, software dan hardware yang dipakai.
Terakhir dan tidak kalah penting, adalah berdoa. Menurut Arief, sekeras-kerasnya kita bekerja, jika Tuhan tidak menginginkan kita sukses, maka kita tidak akan meraihnya.
"Doa juga membuat kita lebih tenang. Jika kita tenang, kita enggak akan frustrasi pada profesi yang kita jalani," kata Arief.
(Rifa Nadia Nurfuadah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.