nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Celoteh Ajeng, si Finalis Miss Indonesia 2013 dari ITS

Margaret Puspitarini, Jurnalis · Kamis 21 Maret 2013 18:08 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2013 03 21 373 779507 rnacOQxjVz.jpg Finalis Miss Indonesia 2013 dari ITS, Ajeng Retna Maharani (Foto : Okezone)

JAKARTA - Cantik, pintar, dan multitalenta. Itulah sosok seorang Ajeng Retna Maharani. Atas dasar itu, mahasiswa Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tersebut pun terpilih menjadi salah satu finalis Miss Indonesia 2013.  

Menjadi salah seorang finalis dalam kontes kecantikan tersebut bukanlah perjuangan mudah. Untuk terpilih dalam ajang tersebut, Ajeng harus menyisihkan sekira 4.000 pesaingnya dari seluruh Indonesia.

 

Ajeng menyebut, ajang tersebut mencari sosok wanita dengan kemampuan intelektual serta keahlian pendukung lainnya, ''Poin utama yang dicari adalah wanita dengan kemampuan intelegensia tinggi nan memiliki banyak talenta,'' ujar Ajeng, seperti dikutip dari ITS Online, Kamis (21/3/2013).

 

Ternyata, keikutsertaan Ajeng dalam Miss Indonesia bukan kali pertama. Dua kali menjajal kompetisi tersebut, dara kelahiran 6 Oktober 1990 itu mengaku cukup kaget dinyatakan lolos sebagai finalis.

 

''Umumnya postur tubuh mereka lebih tinggi dari saya. Rekam jejaknya pun tak main-main, bahkan ada yang sampai telah melanglang buana ke berbagai kontes kecantikan di Indonesia,'' tuturnya.

 

Meskipun tinggal di Surabaya, dalam kompetisi tersebut Ajeng merupakan perwakilan daerah Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Hal ini karena latar belakang keluarganya yang berasal dari daerah tersebut. Meski begitu, selama proses seleksi, Ajeng termasuk dalam urutan tiga besar untuk regional Surabaya.

 

Selama mengikuti kegiatan, sekira 80 persen kegiatan berlangsung di lingkungan karantina. Sisanya berlangsung di panggung catwalk. Selama 37 hari, kehidupan mahasiswi angkatan 2010 itu penuh dengan aneka pelatihan, seminar serta berbagai kegiatan lain.

 

''Hampir semua hal tumpah ruah di sana, mulai dari pembelajaran kepribadian, bertingkah laku, hingga makan dan bicara semua diajarkan. Secara keseluruhan, ajang tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengeksplorasi jati diri mereka,'' ulas perempuan yang terampil memainkan alat musik piano itu. 

 

Selama karantina, waktu tidur Ajeng pun sangat minim, yakni hanya empat jam saja. Pasalnya, hampir setiap hari kegiatan berlangsung sebelum matahari terbit, hingga pukul 01.00 pagi di hari berikutnya.

 

Menghadapi rutinitas baru yang sangat padat tidak membuat Ajeng mengeluh. "Treatment itu justru jadi dorongan untuk pengembangan diri sendiri selanjutnya. Semoga pengalaman tersebut akan terus menjadi bekal positif bagi masa depan saya," tandasnya.

(mrg)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini