PURBALINGGA - Seorang nenek tunanetra di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, menjadi tulang punggung keluarga dengan menjadi perajin tempe. Meski penuh keterbatasan, dia berjuang sendiri menghidupi suami dan merawat seorang cucu yang menderita cacat fisik.
Kehidupan Chotimah (59) agak berbeda dengan warga lainnya. Dia harus memulai aktivitas sejak dini hari, di saat sebagain warga masih terlelap dalam mimpi. Warga Desa Kedungjati, Kecamatan Bukateja, itu sudah tenggelam dalam rutinitas sehari-hari.
Dia harus mencuci kacang kedelai hingga berulang-ulang agar tempe yang hasilkan bersih dan bagus. Meski dilahirkan dalam kondisi tak dapat melihat, namun Chotimah tampak cekatan menimba air dan menuangkannya dalam ember.
Setelah dirasa bersih, tubuh renta Chotimah masih harus menyiapkan tungku perapian untuk memasak kedelai. Dengan berjalan tertatih, dia menata kayu bakar dan menyalakan api. Kebiasan yang berulang selama puluhan tahun membuat ibu tiga anak itu tak lagi mencari-cari letak panci ukuran besar untuk memanaskan kedelai.
Kendati demikian, tongkat kecil selalu menjadi penunjuk arah agar tubuhnya tidak terbentur dinding atau terperosok. Sementara untuk mengetahui besar kecilnya api, Chotimah cukup merasakan dengan menaruh telapak tangan di atas tungku.
“Tidak bisa melihat tapi bisa membuat tempe. Membuat tempe untuk bisa menghidupi keluarga karena saya orang tidak mampu,” ujar Chotimah, Selasa (30/4/2013).
Sementara suaminya, Remeja (65), juga mengalami keterbatasan. Dia mengalami gangguan bicara dan berjalan. Setiap hari, Remeja hanya mampu membantu istrinya mencari daun pisang untuk membungkus tempe.
“Kondisi suami tidak bisa mencari nafkah dan saya kondisinya cacat, tapi saya harus bisa mencari nafkah untuk menghidupi keluarga,” tambahnya.
Tidak banyak, produksi tempe yang dihasilkan pasangan kakek nenek itu. Hanya sekira empat kilogram kedelai yang setiap hari diolah menjadi tempe. Setelah dibungkus dan diinapkan untuk proses peragian, tempe yang siap jual dititipkan ke pengecer.
Sedangkan penghasilan yang diterima rata-rata Rp15 ribu per hari. Uang yang tak seberapa itu harus cukup untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus modal membeli kedelai sebagai bahan dasar tempe.
Dalam rumah yang terbuat dari anyaman bambu itu, mereka juga ditemani seorang cucu, Wahyudi (10). Namun, Wahyudi juga mengalami kekurangan sebagaimana kakek-neneknya. Dia hanya terbaring lemah di bale bambu dan tidak dapat beraktivitas sendiri.
Akibatnya, Chotimah yang harus merawat dan menghidupi ‘bayi besar’ tersebut. Pasalnya, ibu Wahyudi yang merupakan menantunya kabur bersama pria lain.
Setiap hari, Chotimah menggendong dan memandikan cucunya itu ke kamar mandi yang hanya ditutup kain terpal. Setiba di kamar mandi, tubuh wahyudi dibaringkan di atas batu dan tangan-tangan keriput Chotimah menggosok tubuh cucunya itu hingga bersih.
Kendati demikian, dia tidak mengeluh karena menurutnya semua yang terjadi merupakan ujian dari Tuhan. Chotimah bertekat akan terus merawat cucunya hingga batas usianya. Dia juga tidak meminta belas kasihan, dan hanya berharap cucunya bisa sembuh agar dapat bermain seperti anak–anak lain.
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.