JAKARTA - Mahasiswa dan calon guru dinilai sebagai subyek pembentukan pendidikan karakter berbasis budaya bangsa. Untuk itu, penting bagi mereka untuk bisa terlibat di dalamnya.
Demikian disampaikan Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof. Dr. H. Bedjo Sujanto, M.Pd saat Seminar Nasional dan Workshop Pendidikan Karakter di Gedung Sertifikasi Guru, di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (26/6/2013).
"Dengan melibatkan mahasiswa dan calon guru, diharapkan dalam seminar pendidikan karakter ini lebih bermakna dan mengakar sesuai dengan kondisi riil mahasiswa maupun calon guru," jelasnya.
Bedjo memberikan contoh terhadap mahasiswa yang tidak mempunyai pendidikan karakter, yaitu sikap anarkis mahasiswa.
"Seperti demo, mahasiswa merusak kampusnya sendiri, membakar kampusnya sendiri. Itu mencerminkan sikap tidak adanya pendidikan yang berkarakter," terangnya.
Bedjo melanjutkan, dalam membangun karakter tersebut tidak lah mudah. Baginya, orang yang berpendidikan karakter mempunyai hati nurani yang bersih.
"Ketika karakter dibangun dengan baik, karakter menjadi syarat yang penting, ini yang paling penting dalam kehidupan kita," ujarnya.
Ciri-ciri lain dari mereka yang tidak punya karakter yaitu menyontek, bahkan memplagiat skripsi orang lain dan membeli skripsi di jasa skripsi di pinggir jalan.
"Jangan pernah sekali-sekali melakukan hal seperti itu, karena tidak akan pernah membekas dalam pemikiran kita mengenai skripsi itu sendiri," tegas Bedjo.
Baginya, seminar ini penting karena bisa menjadi tempat untuk mengasah lebih tajam lagi pemikiran orang, yang harus diimplikasikan ke dalam hidup seseorang.
"Pesan saya, kita semua harus membangun karakter mulai dari diri sendiri," imbuhnya.