Menakar Kampus sebagai Kawah Candradimuka

Senin 08 Juli 2013 09:56 WIB
https: img.okezone.com content 2013 07 08 95 833380 7ayDsw4vH5.jpg

MENYOAL tentang Kawah Candradimuka, memang hakikatnya cukup menarik dan apik untuk dikaji secara mendalam. Terlebih jika dibenturkan dengan dunia kampus. Konon, menurut Epik Mahabharata, Kawah Candradimuka adalah kawah tempat para dewa merebus Gatotkaca sampai jadi bak bertulang besi, berotot kawat, dan kebal terhadap segala senjata, bahkan bisa terbang pula seperti sebuah pesawat jet tempur.

Mengacu kedua hal tersebut, rasionalnya memang mudah. Kampus yang hakikatnya sebagai ladang ilmu, dan secara struktural menempati strata paling atas sebagi jenjang pendidikan formal. Mampu menempa orang yang masuk di dalamnya dan digodok mateng hingga outputnya menjadi orang sakti mandra guna dan tidak tertandingi.

Analogi semacam ini memang wajar, kampus disandingkan dengan Kawah Candradimuka. Secara kultural pun kampus diagungkan. Bagaimana tidak, dengan konsep tri dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Mengacu hal tersebut, maka seacara otomatis membangun paradigma positif oleh berbagai kalangan masyarakat.

Realita di lapangan memang demikian, tidak sedikit masyarakat awam yang menganggap bahwa mahasiswa pasti serba bisa. Nah, tanpa disadari hal inilah yang merupakan dorongan kuat atas eksisnya mahasiswa negeri. Sungguh memperihatinkan, karena hakikatnya keeksisan mahasiswa semata-mata dilatarbelakangi oleh buah pikirannya (Cogito Ergo Sum, "aku berpikir, maka aku ada") Bukan karena asumsi semata.

Karena itu, wajar jika potret kampus hanya sebagai terminal hedonitas dan apatitas mahasiswa. Pasalnya, rutinitas mereka hanyalah kuliah pulang-kuliah pulang (Kupu-kupu), atau kuliah rapat-kuliah rapat (Kura-kura), atau bahkan hanya kuliah nongkrong pulang-kuliah nongkrong pulang (Kunang-kunang). Ironis sekali, padahal di pundak mereka terselip beban mental maupun moral terhadap bangsa, negara, dan agama.

Quo Vadis Kawah Candradimuka Modern?

"Amenangi jaman edan, Ewuh aya ing pambudi, Milu edan nora tahan, Yen tan milu anglakoni, Boya kaduman melik". Bahasa sederhananya, hidup di zaman edan memang repot. Dan jika tidak disikapi dengan edan pula, maka tidak kebagian. Itulah sekapur sirih Ronggo Warsito yang serasa giris dengan keruhnya zaman.

Ya, potretnya memang demikian. Walaupun toh zaman nyentrik, namun terekam buram. Ironis, seluruh elemen secara kompak memakai kacamata kuda. Alhasil, hanya tahta, harta, dan wanita lah yang menjadi prioritas utama. Tanpa terkecuali para civitas academika. Memang benar, sesuai rumusan Zainal Abidin setidaknya hidup butuh intelektual, spiritual, dan finansial. Namun, jika untuk meraihnya dengan tangan "berlumpur", maka jangan heran jika endingnya hancur.

Diakui, tidak seluruhnya civitas academica dapat dikambinghitamkan. Toh ada mahasiswa yang mampu mengibarkan bendera merah putih di luar negeri, dengan hasil prestasinya. Namun, kalkulasinya sangat limit dan tak sebanding dengan jumlah mahasiswa keseluruhan. Alhasil, output kampus hanya meramaikan jumlah pengangguran negeri.

Nah, karena itu, jika problematika tersebut dibenturkan dengan bahasa halus dan menjurus Ronggo Warsito di atas, maka dalam hal ini gelengan kepala tidak berlaku. Silahan saja diraba, pasti seluruh badan "lusuh dan compang-camping". Agama yang secara hakikatnya sebagai petunjuk arah mata angin, negara yang pada dasarnya sebagai payung pelindung, secara terstruktur tergerus oleh "amarah" zaman edan. Sangat disayangkan, bahwa realitanya memang demikian. Seluruh komponen eksternal mahasiswa pun mengalami kedegradasian.

Cukup menarik, agama yang dalam logika sederhananya sebagai pengontrol jiwa ke arah yang lebih baik, justru terkesan sebagai tempurung untuk menyembunyikan kedok kotornya. Tak jarang pula agama diobral dan diperjualbelikan. Toh memang potretnya, agama telah teranak tirikan. Terutama mahasiswa yang notabene justru berpredikat sebagai Moral Force.

Tak jauh berbeda, media massa yang menurut paham demokrasi Amerika Serikat, menjadi bagian vital dalam mengiringi putaran kebebasan bernegara, justru lambat tahun kian jauh dari peran tulennya. Eksistensi media massa di Amerika memang diagungkan, bahkan posisinya berada di komponen penting negara. Yaitu berada di anak tangga terakhir setelah trias politika, yudikatif, legislatif, dan eksekutif.

Oleh sebab itu, mengacu realita kedisfungsian berbagai elemen tersebut, maka serasa tidak pantas jika kampus disandingkan degan Kawah Candradimuka. Sebab, ibarat dalam miniatur negara, kampus merupakan otak negara. Jadi, baik-buruknya negara tergantung kondisi otak atas dasar rangsangan-rangsangannya. Dan begitupun sebaliknya, jika realitanya kampus mengalami disfungsi dan disorientasi, maka jangan heran jika kondisi negara sakit bahkan lumpuh tak berdaya.

Menuju Kampus Kawah Candradimuka

Sesungguhnya, dengan acuan tri dharma perguruan tinggi, maka kampus merupakan tempat penentu masa depan. Tentu dalam hal ini, jika berbicara mengenai masa depan, maka secara kasap mata tangung jawab dikembalikan ke masing-masing mahasiswa.

Namun, logikanya, secara mutlak pembelajaran dan perkembangan mahasiswa adalah tanggung jawab kampus. Dengan demikian, kampus harus benar-benar mampu menempa dan menelurkan mahasiswa yang tangguh, kesatria, dan kaya. Baik kaya dalam segi moral, mental, intelektual, maupun spiritual.

Setidaknya sistem pembelajaran dibenahi seapik mungkin. Dalam hal ini memang tak semudah mengedipkan kedua mata. Jika sedikit bernada paksaan, itu pun akan mengganggu psikologi mahasiswa. Bahkan, dikhawatirkan akan terjadi hal yang tidak diinginkan dengan dalih penekanan. Di sisi lain, jika diberi kebesan penuh justru endingnya mereka akan mengalami kedegradasian. Sebab melihat data yang ada, kesadaran untuk menimba ilmu belum seutuhnya ada.

Sesungguhnya, Walaupun toh sistem pembelajaran kampus adalah andragogi, namun pihak kampus berhak menata sistem. Mana yang baik untuk mahasiswa  dan mana yang perlu dihindari. Nah, setidaknya pembelajaran di kampus dibuat dengan sistem ala layang-layang. Terkadang ditarik terkadang dilepas.

Setidaknya dengan sistem among yang dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantoro; Ing ngarso sung tulhodho, Ing madyo mangun karyo, Tut wuri handayani. Dan dengan harapan besar dapat dipastikan kampus akan lebih baik dan mampu mencetak tinta emas masa depan bangsa yang berjiwa heroic. Dan lebih dari itu,  serasa pantas jika kampus dinamakan sebagai Kawah Candradimuka modern. Semoga! Wallahu a’lam bi al-shawab.

Mahfudh Fauzi

Peraih Beasiswa Monash Institute

Mahasiswa Ahwalus Syahsiyah Syari’ah dan Ekonomi  Islam

IAIN Walisongo Semarang

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini