Share

Sekolah Ibarat Keluarga yang Ingin Masak Nasi Goreng

Margaret Puspitarini, Okezone · Senin 02 Desember 2013 14:25 WIB
https: img.okezone.com content 2013 12 02 560 905861 Uyuu6tEepb.jpg Ilustrasi. (Foto: Heru Haryono/okezone)

JAKARTA - Kurikulum 2013 merupakan hal baru bagi seluruh tenaga pendidik di Tanah Air. Maka, sebagai bagian dari program Professor Go To School, Universitas Negeri Semarang (Unnes) menggelar seminar terkait Implementasi Kurikulum 2013.

Berlokasi di MTs Asy Syarifah, acara tersebut dihadir 100 guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) Se-kecamatan Mranggen. Pakar matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Hardi Suyitno pun didapuk sebagai pembicara dalam seminar itu.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Menurut Hardi, program ini sengaja diluncurkan Unnes untuk membantu mencairkan masalah di sekolah terkait pembelajaran. Khususnya dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013.

"Sebagai jenderalnya perguruan tinggi, sosok profesor yang bertandang dan mengajar di sekolah, diharapkan jadi inspirasi dan motivator bagi guru maupun siswa dalam meningkatkan kualitas pembelajaran," ujar Hardi, seperti dinukil dari situs Unnes, Senin (2/12/2013).

Hardi memang sengaja memilih turun ke MTs. Sebab, lanjutnya, pendampingan pelaksanaan kurikulum 2013 di MTs masih minim. "Di lingkungan kementerian Agama khususnya MTs sama sekali belum terjamah. Agar penerapan kurikulum baru ini lebih baik, lancar maka perlu pendampingan dan mengenalkan kepada mereka," ungkapnya.

Dia menyebut, hidup harus dinamis. Begitu juga kurikulum yang harus senantiasa berubah sesuai kondisi zaman. Pendapat tersebut didukung dengan ucapan sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abu Tholib, yakni "Didiklah anak-anakmu, kelak mereka akan mengalami jaman yang berbeda.”

Perubahan kurikulum, kata Hardi, adalah sebuah keniscayaan. "Sekolah itu bagaikan negara, di dalammya ada sistem yang secara dinamis berubah dan berkembang. Kepala Madrasah dan Guru bagian dari sistem itu," urai Hardi.

Hardi pun memberikan perumpamaan sebuah keluarga yang ingin memasak nasi goreng. Bahan dasar dalam pembuatan nasi goreng adalah nasi. Sedangkan bumbu lainnya tergantung pada rasa yang diinginkan anggota keluarga.

Sedangkan negara, tambahnya, memiliki dasar Pancasila. Sementara sekolah, panduannya kurikulum dan kepala Sekolah serta guru ialah bagian integral dari itu. "Syarat yang harus dipenuhi agar pembelajaran berkualitas, pengembangan kurikulum sesuai prosedur yang benar, waktu yang memadai, oleh orang-orang yang berkompeten dan siap serta supervisi yang baik," imbuhnya.

Mengingat pentingnya pendidikan karakter pada kurikulum 2013, maka dia mengimbau agar pihak sekolah dan pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi untuk bekerja sama mewujudkan hal tersebut. "Karena MTs di bawah Kementerian Agama, maka harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai agama termasuk karakter ke dalam setiap mata pelajaran," tutup Hardi.

(ade)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini