Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Naikkan Peringkat Matematika, Ubah Dulu UN

Rifa Nadia Nurfuadah , Jurnalis-Jum'at, 06 Desember 2013 |19:08 WIB
Naikkan Peringkat Matematika, Ubah Dulu UN
Ilustrasi: suasana ujian nasional. (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Hasil pemeringkatan Programme for International Student Assessment (PISA) 2012 yang dirilis Organisation for Economic Co-operation & Development (OECD) dan Unesco Institute for Statistics menunjukkan penurunan peringkat Indonesia dalam indeks literasi matematika. Dari peringkat ke-61 pada 2009, Indonesia kini berada di posisi ke-64 dari 65 negara peserta survei.

Penurunan peringkat Indonesia ini tentu membuat hati miris. Selain angka, penurunan peringkat tersebut juga mempunyai makna yang lebih dalam.

Presiden Asosiasi Guru Matematika Indonesia (AGMI) Drs. Firman Syah Noor, M.Pd. menjelaskan, pada 2010, OECD meluncurkan analisis hasil PISA 2009. Survei ini memang rutin digelar tiga tahun sekali. Dalam analisisi hasil PISA 2009 itu diketahui, 76,6% siswa Indonesia ada di level 2. Menurut Firman, anak-anak yang berada di bawah level 2 tersebut sebetulnya tidak siap untuk menjalani hidup efektif di abad 21.

Di sinilah, kata Firman, relevansi literasi matematika dalam kehidupan sehari-hari; yakni bagaimana konsep matematika yang diajarkan sekolah digunakan dalam memecahkan masalah. Sayangnya, pendidikan matematika di Indonesia lebih bersifat prosedural ketimbang penalaran. 

"Sebenarnya tidak heran juga. Sebab, sekira 70-75% soal matematika pada ujian nasional (UN) bersifat prosedural. Makanya, pendidikan matematika di sekolah pun prosedural, karena mengambil soal-soal UN sebagai acuan. Jika tidak belajar sesuai soal UN, maka nilai UN siswa akan rendah dan guru dianggap tidak bisa mengajar dengan baik," papar Firman ketika dihubungi Okezone, Jumat(6/12/2013).

Firman mengimbuhkan, porsi soal-soal dan pendidikan matematika bernalar untuk pemecahan masalah sangat sedikit. Kalaupun ada, pola pemecahan masalah yang diajarkan terlihat rutin karena mengacu pada soal UN tadi.

"Padahal masalah itu seharusnya sesuatu yang belum diperoleh sebelumnya," imbuhnya. 

Dosen pascasarjana Pendidikan Matematika di Universitas Pasundan (Unpas) Bandung itu menilai, mendorong posisi indeks literasi matematika Indonesia ke peringkat atas dapat dilakukan dengan perubahan di UN. Soal-soal UN dibuat lebih berbobot untuk mencari kebenaran secara matematis. Kemudian, soal UN juga dirancang untuk mencari pemecahan masalah yang tidak rutin muncul dalam UN sebelumnya.

Dengan begitu, tuturnya, guru-guru matematika tetap akan mengacu ke soal UN. Tetapi kali ini arahnya benar, karena pendidikan matematika akan diarahkan ke proses penalaran dalam memecahkan masalah.

"Kunci utamanya ya perubahan UN ini. Sebab, hasil survei PISA ini bisa dibilang ideal untuk memperlihatkan hasil pendidikan matematika di suatu negara," imbuhnya.

(Rifa Nadia Nurfuadah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement