nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini Ungkapan Belasungkawa Masinis KA Tragedi Bintaro 1987

Hartoyo, Jurnalis · Selasa 10 Desember 2013 13:57 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2013 12 10 513 910076 e2mEXBBSbK.jpg Slamet Suradio (Foto: Hartoyo/SindoTV)

PURWOREJO - Slamet Suradio (74), masinis kereta api dalam tragedi kecelakaan di Bintaro, Jakarta Selatan, pada 1987, terhenyak dengan peristiwa nahas yang terjadi lagi di lokasi sama kemarin. Ingatannya kembali pada puluhan tahun silam saat ratusan orang meregang nyawa.

“Sangat kaget saat melihat berita di televisi, kenapa bisa ada kecelakaan seperti itu lagi di situ? Ini malah sampai masinisnya tewas. Saya ikut belasungkawa,” kata Slamet di pangkalan asongan koran depan Stasiun Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah, Selasa (10/12/2013).

Mantan Masinis KA 225 (Rangkasbitung-Jakarta) yang terlibat tabrakan dengan KA 220 (Tanah Abang-Merak) pada Senin 19 Oktober 1987 dan menewaskan 156 orang itu ikut bertanggung jawab. Pasalnya saat kecelakaan pada waktu itu Slamet ditetapkan sebagai tersangka dan harus dijebloskan ke penjara.

“Ya berharap PT KAI ikut bertanggung jawab dan tidak lepas tangan, apalagi korban kan mempunyai istri dan anak yang masih kecil. Jangan seperti saya dulu yang malah jadi tersangka dan dipecat tidak hormat,” katanya.

Warga RT 01/02 Dusun Krajan Kidul, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Purworejo, itu pun meminta PT KAI meningkatkan pelayanan agar para penumpang tidak trauma. Dua kecelakaan maut di lokasi yang sama tak pelak membuat warga ketakutan sehingga enggan menggunakan jasa kereta.

“PT KAI harus memperbaiki pelayanannya, karena kecelakaan-kecelakaan kereta kan masih sering terjadi. Apalagi di Bintaro yang kejadian dulu belum dilupakan ini malah terjadi lagi,” ujarnya.

Bapak dari dua anak itu kini tidak menjadi masinis lagi. Setelah kasus hukum yang menjeratnya hingga berujung ke balik jeruji besi, Slamet tidak mendapat uang pensiun dari PT KAI.

Guna menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan keluarga, dia menjadi pedagang rokok keliling sebelum mangkal di dekat Stasiun Kutoarjo. “Iya sekarang sepeti ini, berjualan rokok untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya.

(tbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini