BANGUI – Prancis mengaku sempat meremehkan konflik sektarian yang terjadi di Republik Afrika Tengah. Duta Besar Prancis untuk PBB, Gerard Araud menyatakan, rasa benci antara kelompok yang bertikai di Republik Afrika Tengah sangat besar.
“Kami mengerti konflik dipicu isu sektarian. Namun kami tidak menyangka rasa kebencian yang ada ternyata sangat besar,” ujar Araud, seperti dkutip BBC, Kamis (16/1/2014).
“Kedua kelompok ingin saling bunuh,” lanjutnya.
Konflik terjadi antara kelompok Kristen dan Muslim di Republik Afrika Tengah sejak pergantian tahun. Konflik dipicu kudeta yang dilakukan oleh pemberontak Seleka pada Maret 2013.
Sebagian besar anggota pemberontak Seleka adalah Muslim. Alhasil, kelompok Kristen menyerang warga Muslim yang dianggap memiliki hubungan dengan pemberontak. PBB mencatat, setidaknya 1.000 warga tewas dan jutaan lainnya mengungsi sejak konflik pecah.
Prancis mengerahkan 1.600 tentara untuk mengakhiri konflik di Republik Afrika Tengah. Selain Prancis, pasukan perdamaian juga dikirim oleh Uni Afrika.
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.