Share

Profil Kampus Unggulan Dunia di Bawah 50 Tahun

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Senin 05 Mei 2014 11:16 WIB
https: img.okezone.com content 2014 05 05 373 980104 v6R3laLnp9.jpg Pohang University of Science and Technology di Pohang, Korea Selatan, menjadi kampus terbaik dunia berusia di bawah 50 tahun. ( Foto: dok. Postech)

JAKARTA - Sejak 2010, majalah Times Higher Education (THE) membuat pemeringkatan kampus-kampus muda unggulan berusia di bawah 50 tahun. Sejak kali pertama pula, kampus Asia melejit hingga ke posisi teratas.

Pada tahun pertama daftar THE 100 Under 50 dirilis, Pohang University of Science and Technology di Pohang, Korea Selatan menahbiskan diri sebagai kampus muda terbaik di dunia. Hebatnya lagi, perguruan tinggi yang berdiri pada 1986 tersebut menempati posisi puncak daftar THE 100 Under 50 selama tiga tahun berturut-turut.

Baca Juga: BuddyKu Festival, Generasi Muda Wajib Hadir

Follow Berita Okezone di Google News

Dikenal sebagai Postech, kelahiran sekolah ini tidak diperkirakan sebelumnya. Park Tai-joon, mendiang mantan kepala perusahaan baja di kota yang sama, POSCO, menanamkan dana abadi USD1,2 miliar sebagai modal pendirian Postech. Tai-joon mencontoh California Institute of Technology di Pasadena, California dengan menekankan studi pada bidang sains dan teknik.

Fokus Postech adalah membangun teknologi baru yang dapat mendukung kemajuan ekonomi Korea. Meski sebagian besar mahasiswanya merupakan warga Korea, Postech berupaya menarik minat mahasiswa asing. Sejak 2010, Postech juga sudah menjadi institusi bilingual dengan kebanyakan kuliahnya diampu dalam bahasa Inggris.

Keluarga mahasiswa Postech masih terbilang kecil. Saat ini ada 1.400 mahasiswa S-1 dan 1.900 mahasiswa pascasarjana. Mereka membayar USD5.900 sebagai biaya kuliah dan hanya menghabiskan biaya USD9.700 setiap tahun.

Tahun ini, posisi kedua dalam THE 100 Under 50, seperti dilansir Forbes, Senin (5/5/2014), diraih oleh École Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL), Prancis. Meski secara institusional kampus ini berusia di bawah 50 tahun, kita bisa melihat akar pendiriannya jauh ke belakang. Kampus ini mulanya adalah bagian dari institusi yang didirikan pemerintah Swiss pada 1853. Tetapi, pada 1969, institusi ini memisahkan diri dari keluarga besar University of Lausanne dan membangun kampusnya sendiri di daerah barat daya kota pada 1978.

Seperti halnya Postech, EPFL menekankan pendidikannya pada sains dan teknik. Kampus ini juga memiliki reaktor nuklir sendiri yang digunakan untuk mempelajari ilmu fisika.

Hingga kini, EPFL masih dijalankan oleh pemerintah Swiss. EPFL memiliki 9.900 mahasiswa sarjana dan pascasarjana. Biaya studi di kampus ini sekira USD1.400.

Peringkat ketiga adalah kampus Korea lainnya, Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) di Kota Daejeon. KAIST didirikan oleh pemerintah Korea Selatan pada 1971 sebagai sekolah pascasarjana. Program sarjana kemudian ditambahkan pada 1984.

Sains dan teknik juga menjadi fokus pemberlajaran di KAIST. Pada 2009, KAIST bergabung (merger) dengan kampus negeri lainnya, Information and Communications University. Seperti Postech, Postech, KAIST terbuka pada dukungan dari berbagai perusahaan yang ingin mengambil bagian dalam riset kampus.

KAIST juga meningkatkan keluaran mahasiswanya, mempublikasikan banyak tulisan ilmiah di berbagai jurnal internasional. Banyak dari jurnal tersebut disitasi dan dibagi oleh para akademisi.

KAIST memiliki sekira 10.250 mahasiswa, termasuk 670 mahasiswa internasional. Kampus ini menawarkan subsidi biaya kuliah untuk semua mahasiswanya. Mahasiswa baru mendapatkan subsidi penuh, sekira USD6.800 untuk satu tahun akademik. Mahasiswa yang mempertahankan IPK minimal 2,7 dapat menikmati subsidi penuh ini hingga tahun terakhir mereka di KAIST.

Tahun lalu, KAIST memilih rektor baru, Sungo-Mo “Steve” Kang. Dia belajar di Amerika Serikat dan bekerja sebagai dosen di University of Illinois dan dekan fakultas teknik di University of California, Santa Cruz.

Salah satu sekolah yang peringkatnya naik adalah Nanyang Technological University (NTU) di Singapura. Dari peringkat delapan, mereka naik ke peringkat lima. Dibuka pada 1991 sebagai sekolah tinggi teknik, NTU berkembang sebagai universitas dengan fokus pada sains dan teknologi. NTU mengembangkan banyak kerja sama internasional dengan berbagai lembaga, termasuk Imperial College, London, untuk mendirikan sekolah kedokteran.

NTU juga bermitra dengan perusahaan automotif seperti Rolls Royce, Volvo dan BMW. Biaya kuliah untuk mahasiswa internasional adalah USD27 ribu, lebih tinggi dari berbagai kampus lain di daftar ini tetapi lebih rendah dari kampus swasta di Amerika Serikat, seperti Harvard University, yang mematok USD42 ribu sebagai biaya kuliah.

Editor pemeringkatan THE, Phil Baty, menyebut, satu kampus lain yang menjadi tujuan para pelajar asing adalah Maastricht University di Belanda. Dengan 16 ribu mahasiswa berasal dari luar Belanda, kampus ini menempati posisi enam di daftar. Setiap pelajar internasional membayar USD14 ribu untuk biaya kuliah.

Kampus AS dengan peringkat tertinggi dalam daftar ini adalah University of California (UC), Irvine. Didirikan pada 1965, kampus ini didirikan untuk mengakomodasi pertumbuhan mahasiswa yang kian banyak. UC memiliki 30 ribu mahasiswa, 23 ribu di antaranya mahasiswa sarjana. Biaya kuliah di kampus ini mencapai USD34 ribu.

Selain UC, hanya ada tujuh kampus AS di daftar THE 100 Under 50. Mereka adalah U.C. Santa Cruz (11), University of Illinois, Chicago (13) dan University of Texas, Dallas (15).

"Kebanyakan kampus AS mendominasi pemeringkatan THE secara umum, hingga 76 kampus dari 100 slot tersedia. Banyak kampus top AS memiliki akar pendidikan yang baik sejak abad ke-19," tutur Baty.

Menurut Baty, daftar ini menunjukkan perubahan dunia pendidikan tinggi. Kini, sektor negeri dan swasta di berbagai negara berinvestasi pada kampus-kampus muda. Baty pun mendorong anak muda untuk menuntut studi ke luar negeri.

"Jika Anda adalah mahasiswa yang ambisius, Anda bisa mendapatkan pendidikan yang baik di Singapura atau Hong Kong. Anda akan menjadi bagian dari jantung kebudayaan dan pusat pertumbuhan ekonomi di timur," ujarnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini