BAGHDAD - Keadaan Irak semakin mencekam setelah diadakannya pemilihan umum (Pemilu). Semenjak pesta demokrasi tersebut berakhir sebanyak 74 warga sipil menjadi korban kekejaman yang terjadi di seluruh negara tersebut.
Kebanyakan korban tewas di daerah Utara dan Ibu Kota Irak, Baghdad. Mayoritas korban meregang nyawa akibat serangan bom bunuh diri.
Keadaan ini diperparah dengan aksi kekerasan yang terjadi pada Rabu 28 Mei 2014. Aksi tersebut disebut sebagai malam yang paling berdarah di Irak setelah pemilu.
Dilansir dari Dailystar, Kamis (29/5/2014), Pemerintah Irak menyatakan ada banyak faktor yang menjadi penyebab maraknya aksi kekerasan yang berujung pertumpahan darah terjadi.
Faktor utama adalah terjadinya perang saudara di Suriah. Pihak Irak menyatakan apa yang terjadi di Suriah telah menyebabkan instabilitas politik terjadi di negara ini.
(Andreas Gerry Tuwo)