Share

Ikatan Dinas Jadi Solusi Biaya Kuliah

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Jum'at 18 Juli 2014 08:08 WIB
https: img.okezone.com content 2014 07 17 373 1014289 HXUlA30kvx.jpg Tingginya biaya kuliah masih menjadi momok bagi banyak orangtua. Selain beasiswa, sekolah ikatan dinas bisa jadi solusi. (Foto: dok. Okezone)

JAKARTA - Tingginya biaya kuliah masih menjadi momok bagi banyak orangtua. Akhirnya, banyak siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) terpaksa tidak melanjutkan studi karena keterbatasan ekonomi.

Salah satu solusi masalah ini adalah skema sekolah ikatan dinas. Orangtua mahasiswa ikatan dinas tidak perlu dipusingkan dengan keharusan membayar biaya kuliah tiap semester bahkan si anak akan mendapatkan "gaji" bulanan dan kepastian pekerjaan setelah lulus.

Fasilitas inilah yang memembuat Heri mendukung keputusan anaknya, Muhammad Luqman, untuk mengambil studi di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Luqman, kata Heri, sebenarnya diterima di jurusan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2014 lalu.

"Antusiasme Luqman untuk meringankan beban orangtua lebih tinggi ketimbang mengambil kuliah di satu jurusan tertentu. Akhirnya, setelah pembicaraan antara orangtua dan anak, Luqman pun mantap kuliah di STIS," papar Heri ketika berbincang dengan Okezone, Kamis (17/7/2014).

Heri selalu membebaskan anak-anaknya untuk memilih bidang studi dan kampus sebagai tempat kuliahnya. Status ikatan dinas, kata Heri, memang menjadi pertimbangan Luqman ketika menjalani tes di STIS.

"Sebenarnya saya melihat, anak saya bisa lebih berkembang di lingkup universitas ketimbang di sekolah dengan spesifikasi ilmu tertentu. Mungkin ini karena saya juga tidak paham betul lingkup ilmu statistik seperti apa. Tapi yang jelas, 'pesan sponsor' saya, kuliah di STIS memang meringakan beban biaya kuliah," tuturnya.

Pegawai sebuah perusahaan swasta itu menilai, keberadaan kampus-kampus ikatan dinas masih sangat membantu banyak calon mahasiswa dan orangtuanya. Dia bercerita, kekhawatiran tentang biaya kuliah juga menghinggapi anak pertamanya ketika akan masuk Universitas Indonesia (UI). Tetapi, komitmen untuk menyekolahkan anak setinggi-tingginya menjadi motivasi tersendiri bagi Heri.

Heri selalu menekankan agar anak-anaknya belajar dan memikirkan cara masuk kampus pilihan mereka. Soal biaya, itu urusannya sebagai orangtua.  Menurutnya, besaran biaya kuliah itu memang relatif. Ada yang bilang kecil, ada yang bilang terjangkau. Heri mengaku, uang kuliah sang kakak yang mencapai sekira Rp7 juta per semester harus diperjuangkan betul-betul.

"Beruntung, si kakak ini mampu mempertahankan IPK di atas tiga sehingga bisa mendapatkan beasiswa," ujar Heri.

Pria yang juga merupakan lulusan sekolah ikatan dinas itu menyayangkan jika ada siswa yang mampu secara intelektual tetapi tidak mampu secara finansial harus putus sekolah. Apalagi jika hal itu terjadi karena orangtuanya langsung menyerah ketika mengetahui nominal biaya kuliah yang harus ditanggungnya.

"Sebagian orang memang belum beruntung dalam perekonomian. Tetapi, saya rasa kalau orangtua enggak pesimistis, maka anaknya pun bisa maju. Selain itu, jika si anak memiliki prestasi dan nilai akademik yang baik, banyak kok donor yang mau memberikan beasiswa," imbuhnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini