Share

Memperingati 69 Tahun Kemerdekaan RI

Jum'at 22 Agustus 2014 14:04 WIB
https: img.okezone.com content 2014 08 22 367 1028315 zgnqXCFvEM.jpg Asriatun (Foto: dok. pribadi)

TANGGAL 17 Agustus selalu diperingati sebagai hari kemerdekaan Indonesia, merdeka dari penjajahan. Sayangnya, kerap kali kita salah dalam menginterpretasikan hari kemerdekaan bangsa ini. Kemerdekaan Indonesia bukan didapat dengan percuma; butuh darah, dan keringat untuk merebutnya. Perjuangan keras dari para pejuang, baik itu yang harum namanya atau yang jasadnya bahkan tidak dikenali.  

Memperingati kemerdekaan ditandai dengan semangat nasionalis yang membara. Kecintaan terhadap tanah yang diperjuangkan. Maka sudah sepatutnya pula kita sedikit berbangga dengan kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan adalah harga mati, merdeka atau mati. Begitulah semboyan yang kerap kita dengar dalam berbagai pidato memperingati hari kemerdekaan.

 

Enam puluh sembilan tahun Indonesia merdeka. Merdeka dari imperialis kolonialisme. Namun, sangat sayang melihat kenyataan bahwa hingga detik ini kita masih terjajah. Terjajah bahkan hampir dalam berbagai aspek; politik, ekonomi dan budaya.

 

Ada sebuah lelucon yang terlontar, “Indonesia ini sama halnya seperti pemulung”. Kita terlalu sering mengadopsi berbagai hal asing yang kita anggap sebagai sebuah proses kemodernan. Maka sering kali kita terjebak dan pada akhirnya kehilangan modal murni bangsa sendiri.

 

Memperingati 69 tahun kemerdekaan Indonesia rasanya bukan suatu hal yang berat untuk sedikit merefleksikan diri. Meninjau sejauh mana kedalaman sensitivitas kita. Sensitivitas yang mampu menjangkau bahwa telah banyak modal murni yang kita perjuangkan, kian terkikis atau bahkan hilang sama sekali.

 

Nilai kearifan lokal yang harusnya menjadi jati diri bangsa ini. Bangsa yang kaya namun miskin penanaman nilai kearifan lokal. Kita telah mengidap suatu anomali akut. Kita senang dengan apa yang digunakan orang lain dan lupa menjaga dan mempertahankan milik kita sendiri. Maka jangan heran jika kemudian modal murni kita akhirnya diakui sebagai milik bangsa lain.

 

Saya tidak ingin menyalahkan siapa pun, karna saya cukup mahfum bahwa kita semua mungkin saja terjebak dengan kesalahan yang sama. Namun memperingati 69 tahun kemerdekaan Indonesia, seperti ada yang mengetuk hati saya. Sekedar sama-sama mengingat dan saling mengingatkan. Kemerdekaan adalah milik kita. Sudah sewajarnya kita memanfaatkan momen bermakna ini, setidaknya sekedar mangingatkan.

 

Enam puluh sembilan tahun adalah umur ketika seharusnya bangsa ini tidak lagi berada dalam bayang-bayang asing. Sudah saatnya kita berdiri di atas kaki sendiri. Sudah waktunya menatap langit sendiri. Sudah waktunya menggarap ladang sendiri. Sudah waktunya memancing ikan dengan kail sendiri. Kita tidak perlu lagi mengantungkan diri pada asing.  

 

Dari segi kuantitas rasanya patut kita berbangga karena jumlah penduduk Indonesia berada di urutan keempat terbanyak di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat. Sungguh, prestasi yang sejatinya tidak akan mendapat penghargaan dari mana pun.

 

Sudah 69 tahun, tapi kemiskinan tetap menjadi masalah utama. Dan tetap saja hati ini pilu ketika masih banyak orang kelaparan, tidur di jalanan, putus sekolah. Belum lagi angka kematian yang semakin tinggi, prostitusi yang dilindungi dengan dalih devisa negara dan masih ada sederetan permasalahan yang jika saya jabarkan mungkin akan menghabiskan banyak waktu. Karena saya rasa, kita semua tahu permasalahan bangsa ini.

 

Selama 69 tahun, 32 tahun di antaranya dihabiskan untuk membangun infrastruktur, namun gagal membangun mental bangsa. Tiga dekade itu justru merusak mental bangsa. Atau mungkin kita beralih ke dua periode ketika pemimpinnya sibuk mengurusi rumah tangganya sendiri, sibuk mengurusi partainya sendiri. Dua periode yang tidak berbekas dan dua periode yang hanya akan diingat cacatnya.

 

Setelah 69 tahun, tentu setiap kita memiliki harapan besar kepada presiden yang baru. Suatu pengharapan bahwa akan terealisasi apa yang sama-sama pernah dicita-citakan Bung Karno dan Moh. Hatta dan juga bangsa Indonesia ketika pertama kali Proklamasi kemerdekaan digemakan.

 

Kita mugkin akan setuju dengan kalimat, “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu.” Mempertanyakan kewajiban negara akan menjadi sia-sia belaka jika kita hanya duduk berdiam diri,  mengharapkan perubahan terjadi begitu saja. Kita harus bergerak. Bahkan menuntut hak kita pada negara.  Enam puluh sembilan tahun akan berlalu begitu saja jika kita terus berharap tanpa berbuat.

 

Tulisan ini hanya untuk mengingatkan. Tapi saya yakin bahwa kita sudah-sama ingat sekarang.

 

Asriatun

Mahasiswi Program Studi Ilmu Politik

Universitas Malikussaleh

Ketua Komunitas Menulis Butuh Irigasi

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini