Share

Berperang dengan Saudara Sendiri

Sabtu 23 Agustus 2014 14:08 WIB
https: img.okezone.com content 2014 08 23 367 1028783 GtLfWzbNel.jpg Rosanti Anugrah Nurjannah Purba (Foto: dok. pribadi)

SELEPAS pemilu presiden 2014 ini, saya memperhatikan, telah timbul suatu fenomena baru yang kemungkinan menuju arah destruktif. Memang, pelaksanaan pemilu tahun ini terlihat sangat demokratis. Saya akui itu sebagai suatu kelebihan dan kemajuan masyarakat Indonesia dalam hal melek politik dan hukum. Terlebih lagi sebagian besar masyarakat pemilih adalah golongan muda. Mereka (termasuk saya) telah benar-benar sadar akanĀ  pentingnya partisipasiĀ  terhadap pemilu dan sudah sedikit dari kami yang apatis alias memilih golput (golongan putih). Kondisi ini mencerminkan bahwa anak muda Indonesia saat ini sudah mulai sadar akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara dalam hal mengemukakan suaranya. Bahkan, anak kecil yang masih bersekolah di taman kanak-kanak pun punya calon presiden dan wapres jagoan mereka. Padahal yang kita ketahui mereka masih begitu dini untuk mengenal dan mengerti hal-hal seperti itu. Dari situ saya mulai salut akan kemajuan dan keterbukaan cara berfikir anak muda Indonesia dalam hal sadar hukum dan politik di negara ini.Ā 

Namun dari fenomena pemilu kemarin, saya melihat ada suatu lubang kecil yang mungkin bisa menjadi semakin besar. Ada beberapa pemuda Indonesia yang sepertinya terlalu fanatik akan calon tertentu. Sampai-sampai, beberapa dari mereka bertengkar lewat media sosial tentang siapa calon yang paling baik di mata mereka dan menelan bulat-bulat informasi yangĀ  berkaitan dengan latar belakang, program dan rencana-rencana capres atau cawapres tertentu.

Melihat hal itu, saya bersedih. Karena saya pun anak muda Indonesia, saya juga punya capres dan cawapres jagoan saya. Namun saya tidak mau menunjukkan fanatisme berlebih apalagi sampai menimbulkan perang kata-kata yang berbau SARA dan berujung pada fitnah atas orang-orang tertentu, meskipun itu terjadi hanya di media sosial. Saya takut nilai-nilai persatuan Indonesia yang dahulu diperoleh dengan susah payah, hancur begitu saja hanya karena sifat-sifat kefanatisan dan kurang kritisnya beberapa pemuda dalam hal mengolah informasi yang diterimanya.

Bukan hanya dari fenomena pilpres kemarin, banyak juga kasus tawuran di antara sesama anak muda di Indonesia baik antarsekolah, antarkampus maupun antarkampung.Ā  Sepengetahuan saya, kasus tawuran itu terjadi disebabkan karena adanya provokasi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang sengaja ingin membuat kelompok dan masyarakat ini terpecah belah.

Itu baru dari segi kelompok masyarakat tertentu, apakah kita mau kembali lagi seperti dulu sewaktu Indonesia dijajah oleh Belanda? Masyarakat kita masih terfragmentasi di dalam kelompok-kelompok tertentu yang berlandaskan paham primordial kedaerahan dan kesukuan?

Sungguh, saya secara pribadi, dan masyarakat Indonesia pada umumnya tidak mau lagi menghadapi penjajahan seperti dulu. Ya, bukan?

Di sinilah kita pemuda yang paling banyak jumlahnya, yang di dalam jiwanya berkobar semangat berjuang, haus akan prestasi dan pengakuan jati diri, mari kita bangun hubungan persaudaraan sebangsa dan se-Tanah Air, jangan sampai kita terpisah lagi seperti dahulu. Kini kita telah bersatu di dalam kemerdekaan selama 69 tahun semenjak diproklamasikannya pidato kemerdekaan oleh sang Proklamator RI. Jangan sampai kita membuat para pemuda-pemudi Indonesia yang dulu membangun kesatuan dan persatuan negara ini dengan susah payah, bersedih di dalam kuburnya karena melihat kita berperang dengan saudara sendiri di tanah yang dahulu direbut secara susah payah dari penjajah asing. Jangan sampai kita malah dijajah oleh emosi dan stereotipe sesama bangsa Indonesia.

Untuk itulah saya mengajak semua anak muda Indonesia untuk berjuang memerangi rasa egois dan menyaring informasi-informasi secara cerdas. Dengan begitu, kita, para pemudi-pemuda Indonesia terhindar dari provokasiĀ  yang bisa menjerumuskan kita ke arah perpecahan.

Salam merdeka!

Rosanti Anugrah Nurjannah Purba

Fakultas Hukum

Universitas Diponegoro, Semarang

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini