nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cara Anbar Bedakan Diri dengan Ribuan Sarjana

Rifa Nadia Nurfuadah, Jurnalis · Jum'at 05 September 2014 14:45 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2014 09 05 373 1034769 g24EvTOXlz.jpg Anbar Jayadi (Foto: Rifa Nadia Nurfuadah/Okezone)

JAKARTA - Enggak mau sama dengan ribuan lulusan Universitas Indonesia (UI) setiap tahun, Anbar Jayadi aktif dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Sejak tahun pertama kuliah, setiap bulan ada saja aktivitas ekstrakurikuler yang dia ikuti.

Jika melihat curriculum vitae-nya, berbagai kegiatan yang dia ikuti mendukung pendidikannya di Fakultas Hukum. Anbar mengaku, hal yang dia sukai dari segudang aktivitasnya adalah bertemu dengan orang baru. Dengan begitu, dia bisa belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain dan menambah pengetahuan.

"Lagi pula, orangtua saya sangat mendukung saya aktif seperti ini. Kata papa dan mama, 'Dari 2.000 lulusan per tahun, apa yang membedakan kamu dengan mereka?'" ujar Anbar, ketika berbincang dengan Okezone, belum lama ini.

Motivasi dari kedua orangtua itulah yang menjadi pegangan Anbar dalam mengasah diri sebagai mahasiswa plus-plus; yakni mahasiswa yang tidak sekadar kuliah pulang-kuliah pulang alias kupu-kupu. Selain kompetisi debat dan peradilan semu, Anbar juga mencicipi program magang. Gadis kelahiran Jakarta, 18 September 1992 ini baru saja menyelesaikan program SCG International Internship Program 2014.

Dalam program ini, Anbar merupakan satu-satunya mahasiswa Fakultas Hukum yang terpilih dari ratusan pelamar di seluruh Indonesia. Bersama sembilan mahasiswa pilihan lainnya, selama sebulan, Anbar merasakan pengalaman sebagai karyawan di induk perusahaan SCG di Thailand.

Pemilik nilai IPK 3,40 ini ditempatkan di bagian Legal, sesuai latar belakang pendidikannya. Menurutnya, magang merupakan kesempatan penting untuk belajar mengaplikasikan ilmu dari kampus ke dunia kerja.

"Dengan ikut magang, saya juga mengetahui banyak perspektif baru karena anak hukum harus punya banyak perspektif supaya enggak kuper. Program ini memberi saya kesempatan belajar mengaplikasikan ilmu hukum yang saya pelajari di kampus menjadi sebuah kebijakan praktis di dunia kerja. Jadi, saya belajar untuk tidak hanya menggunakan perspektif hukum, tetapi juga perspektif bisnis," imbuhnya

 

Magang di induk perusahaan multinasional membuat Anbar belajar berbagai budaya, khususnya Thailand, dan budaya asing lainnya sesuai latar belakang para pekerja di sana. Selain itu, dia juga belajar menyelesaikan tanggung jawab. Pasalnya, setiap peserta SCG International Internship diberikan satu proyek individu yang harus selesai selama masa magang.

Proyek Anbar adalah membangun share service center di Indonesia. Share service center, kata Anbar, diperlukan karena perusahaan merasa memiliki legal consultant di firma hukum itu terlalu mahal. Apalagi bayaran mereka per jam. Perusahaan pun menginginkan efisiensi.

"Bentuk share service center ini adalah anak perusahaan atau departemen yang mampu mengurusi konsultasi hukum untuk semua divisi perusahaan; semacam in house legal consultant. Selain lebih murah, penerapan share service center juga akan efektif karena para konsultannya sudah mengetahui bagaimana latar belakang bisnis perusahaan itu dijalankan. Jadi pertimbangannya enggak cuma aspek hukum, tetapi juga aspek bisnis perusahaan," papar cewek yang pernah mengikuti pertukaran mahasiswa ke Jepang selama setahun itu.

Meski bekerja sesuai bidangnya, Anbar mengaku sedikit kesulitan jika menghadapi terminologi hukum. Pasalnya, setiap negara bisa jadi memiliki istilah berbeda-beda untuk satu terminologi. Agar tidak gagap, Anbar pun harus terus menerus belajar.

Selama magang, gadis berkerudung yang mengantongi nilai TOEFL ITP 513 ini paling suka ketika diajak rapat dengan berbagai divisi. Meski tidak berkontribusi dan hanya menjadi observer, dia mempelajari banyak hal dari kesempatan tersebut.

"Misalnya dengan divisi human resources (SDM). Saya jadi belajar tentang aplikasi hukum dalam ranah SDM, semua dibahas detail. Itu menyenangkan banget, tahu bagaimana proses pengaplikasian teori-teori hukum menjadi kebijakan praktis perusahaan yang melibatkan lintas divisi," tutur penyuka Thai Tea ini bersemangat.

Menjadi peserta magang di SCG International Internship Program 2014 sendiri tidaklah mudah. Anbar harus mengikuti serangkaian seleksi yang dimulai dari pengiriman aplikasi. Dalam proses tersebut, dia harus menulis dua esai dalam bahasa Inggris tentang filosofi bisnis SCG dan alasan mengapa SCG harus memilihnya untuk menjadi salah satu peserta magang.

Lolos dari seleksi berkas, gadis berkacamata itu harus megikuti sesi interview. Tentu saja, dalam bahasa Inggris. Dia pun menyisihkan ratusan pelamar dan menjadi satu-satunya mahasiswa hukum di program tersebut.

Anbar mengaku, mau mencoba magang lagi. Kali ini di biro hukum Tanah Air. Alasannya, dia harus tahu dulu basis penerapan hukum di Indonesia seperti apa, baru belajar tentang aplikasi hukum di negara lain. Menurut Anbar, dengan menguasai pengetahuan tentang hukum di dalam negeri, maka dia akan memiliki nilai tambah di pasar tenaga kerja. Apalagi menuju era masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) 2015 mendatang.

"Anak Indonesia enggak kalah, kok, dengan negara lain. Yang penting adalah memiliki kemampuan bahasa Inggris, tidak takut untuk membuka diri terhadap berbagai budaya baru dan semangat!" ujar gadis yang mengambil konsentrasi hukum internasional ini seraya tersenyum.

(faj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini