nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kakek Jokowi, Lurah Dongkol Beristri Tiga

Bramantyo, Jurnalis · Senin 20 Oktober 2014 07:31 WIB
https: img.okeinfo.net content 2014 10 19 337 1054212 NQcPMAJmNf.jpg Kakek Jokowi, Lurah Dongkol Beristri Tiga

SOLO - Suasana Dusun Kauman, Desa Kragan, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah, tampak sepi. Sama seperti suasana desa pada umumnya, di desa ini tidak terlalu terlihat adanya aktivitas menonjol dari warganya.

Untuk bisa mencapai ke desa kecil yang terletak di lereng kaki Gunung Lawu dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Sragen atau berjarak 25 KM dari pusat Kota Karanganyar dan 15 KM dari Kota Solo, tidaklah mudah.

 

Selain melewati pepohonan jati, jalanan naik dan turun serta berlobang sudah pasti akan dilalui. Bila malam hari, kawasan menuju Desa Kragan sangat gelap gulita. Sebab di daerah tersebut lampu penerang jalan masih sangat minim sekali, sehingga berbahaya bagi para pendatang yang belum mengetahui medan daerah tersebut.

 

Setibanya di Desa Kragan, bau menyengat dari kotoran petenakan ayam sudah pasti tercium. Maklum di desa ini, mayoritas mata pencarian warganya selain pertanian, juga banyak yang membuka usaha ternak ayam. Tak heran, bila di desa yang dikelilingi daerah berbuktian tandus ini banyak sekali peternakan ayam berdiri. Di desa inilah keluarga besar Presiden terpilih Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi tinggal.

 

Barulah, setelah Jokowi terpilih menjadi Presiden, ruas jalan untuk masuk ke tempat keluarga besarnya tinggal dibenahi. Padahal sebelumnya, untuk menuju ke Dusun Kauman ini, jalan rusak banyak ditemui.

 

Setibanya di desa ini, siapa pun tidak akan menemui kendala untuk menemukan lokasi rumah keluarga Jokowi. Sebab, seluruh warga Desa Kragan sangat mafhum di mana keluarga itu tinggal.

 

Warni, salah satu warga yang masih keluarga jauh dari Jokowi mengatakan, Kakek Jokowi bernama Wiryo Miharjo. Bagi warga desa, nama Wiryo Miharjo tidaklah asing. Sebab, semasa hidupnya Wiryo Miharjo adalah Kepala Desa yang memimpin Desa Kragan.

 

"Kakek Jokowi itu seorang lurah. Warga biasa menjuluki Kakek Jokowi itu sebagai Lurah Dongkol. Julukan Lurah Dongkol itu biasa diberikan warga untuk lurah yang menjabat seumur hidup dan tak akan diganti sebelum meninggal dunia," papar Warni saat ditemui Okezone di rumahnya, Jumat 17 Oktober 2014

 

Menurut Warni, kakek Jokowi, Wiryo Miharjo itu meninggal pada 1985 sewaktu dirinya masih duduk dibangku SMA. Selama belum terpilih lurah baru menggantikan kakek Jokowi, posisi lurah diisi pejabat sementara. Hingga pada 1988 lurah baru yang masih ada hubungan keluarga dengan Warni, resmi diangkat menjadi lurah baru.

 

Menurut Warni, kakek Jokowi, memiliki lima orang putra. Putra pertamanya adalah ayah Jokowi yang memiliki nama lengkap Widjiatno Notomiharjo.

 

Selain Widji, empat putra Wiryo lainnya yaitu Wahyono yang saat ini tinggal di Sumberlawang,  Sragen, Mulyono tinggal di Sukoharjo, Joko Sudarsono juga tinggal di Sukoharjo serta Heru Purnomo, putra bungsu. Hanya Heru-lah yang saat ini masih tinggal dan menempati rumah keluarga tersebut di Desa Kragan.

 

Kakek Jokowi memiliki tiga orang istri. Dan ayah Jokowi, anak yang berasal dari istri pertama. Wiryo Miharjo sebenarnya bukan berasal dari Desa Kragan, Gondangrejo, Karanganyar. Namun Wiryo berasal dari daerah Kalioso, Sragen, Jawa Tengah. Saat itu, posisi lurah belum dipilih secara langsung seperti saat ini. Namun, dipilih berdasarkan penunjukan langsung. Dan Kakek Jokowi sebelum menjabat sebagai lurah, bekerja sebagai staf biasa di kecamatan ditempat asalnya.

 

Menurut Warni, sejak menikah dengan Sujiatmi, ayah Jokowi tidak tinggal lagi di Desa Kragan. Namun membeli rumah di kawasan Balekambang, Manahan, Solo atau tepatnya di depan garasi bus Damri.

 

Meskipun sudah tidak lagi tinggal di Desa Kragan, Widjiatno setiap harinya masih datang ke Desa. Maklum, di Desa Kragan, Widjiatno masih memiliki dua usaha berupa tempat penggilingan padi dan penyewaan alat sedot air yang memang disewakan kepada para petani untuk mengairi air ke sawah.

 

Saat itu, orang yang memiliki usaha penggilingan padi serta alat penyedot air, sudah tentu memiliki uang yang cukup banyak. Sebab, untuk membuka usaha tersebut, elain memerlukan modal yang cukup besar, juga izin-izin usahannya pun sangat sulit.

Meski begitu, bukan berarti Jokowi tak pernah main ke Desa Kragan. Setiap akhir pekan, Jokowi bersama ibunya yang akrab dipanggil warga desa dengan panggilan bu Jiyem main ke desa itu

 

Sewaktu menikah dengan ayah Jokowi, Jiyem pun telah memiliki usaha kayu peninggalan orangtuanya di daerah Sragen. Sehingga bisa dikatakan, untuk urusan ekonomi, Jokowi tak merasa kesulitan sama sekali.

 

"Kalau datang ke desa, Jokowi dan ibunya sudah naik mobil. Saya masih ingat betul, setiap datang ke desa, menjemput ayahnya, Jokowi pakai mobil kijang," ujarnya.

 

Sebelum akhirnya ayah Jokowi memutuskan untuk menjual dua penggilingan padi dan penyedot air. Menurut Warni, dijualnya seluruh usaha tersebut bukan dikarenakan kesulitan ekonomi, tapi untuk menambah modal usaha kayu milik ibu Jokowi.

 

"Penyedot air yang dulunya punya ayah Jokowi ini sudah saya beli. Usaha ini dijual bukan karena kesulitan ekonomi, tapi untuk memperbesar usaha milik ibu Jokowi. Selain menerima dan memproduksi kayu untuk umum, usaha kayu milik ibunya ini juga menyuplai usaha kayu Roda Jati milik paman Jokowi, kakak dari ibu Jokowi yang bernama Miyono," jelasnya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini