SO 1 Maret Demi Membuka Mata Dunia

Randy Wirayudha, Okezone · Minggu 01 Maret 2015 15:12 WIB
https: img.okezone.com content 2015 03 05 340 1114391 so-1-maret-demi-membuka-mata-dunia-0vVbjG2OiL.jpg Reka Ulang teatrikal SO 1 Maret (Foto: Courtesy Dion Kaspar)

YOGYAKARTA – Sirine menyalak-nyalak di pusat kota Yogyakarta. Merinding rasanya terus-menerus mendengar sirine itu meraung-raung, pertanda serangan besar akan menerjang. Tapi tak sedikitpun TNI gentar kendati pasukan Belanda mulai menyerang dengan kekuatan besar.

Baku tembak tentu jadi “drama” antara TNI dengan pasukan Belanda yang melancarkan Agresi Militer II. Yogyakarta yang jadi Ibu Kota Republik Indonesia saat itu pun dikuasai setelah TNI memilih mengundurkan diri ke luar kota.

Tapi kekuasaan Belanda di Yogyakarta tak bertahan lama. Dengan pelanggaran perjanjian Renville sebelumnya, Belanda pun seolah ingin membuktikan bahwa Republik sudah tak lagi ada.

Tapi selang beberapa bulan kemudian, TNI disertai rakyat mengadakan “Serangan Oemoem (SO 1 Maret)”. Pertempuran dahsyat terjadi pada 1 Maret, di mana TNI menyerang Yogyakarta dari tangan musuh dari berbagai area di Kota Yogyakarta.

Ibu Kota berhasil dikuasai – kendati hanya enam jam lamanya, di mana akhirnya TNI memilih kembali keluar dari Yogyakarta. Tidak lama memang, tapi serangan itu cukup untuk membuka mata dunia, bahwa Republik Indonesia masih ada. Sebuah upaya yang bukan berasal dari aksi nekat semata, melainkan kecerdasan perjuangan fisik dan diplomasi.

Aksi itu kembali disaksikan langsung warga Kota Yogyakarta, sebagaimana terjadi 66 tahun silam, atau pada 1 Maret 1949 – sebagai aksi balasan Agresi Militer II Belanda, Desember 1948.

Teatrikal kolosal dipersembahkan Paguyuban Wehrkreise (PWK) III Yogyakarta bersama sejumlah penggiat sejarah reka ulang (reenactor) se-Indonesia, mulai dari Djokdja 45, Bogor Historical Community, Historia van Bandung, Semarang Historical Reenactment, Roode Brug Soerabaia, Magelang Kembali, maupun beberapa individu yang datang dari Jakarta, Bojonegoro, Trenggalek, hingga Medan.

Teatrikal yang digelar, Minggu (1/3/2015) pagi, merupakan event untuk memperingati SO 1 Maret 66 tahun silam yang diawali upacara dan diakhiri pembukaan pameran di Benteng Vredeburg bertemakan, ‘Pena dan Sejarah’.

“Hanya Enam jam, tapi sangat berarti dan membuka mata internasional,” ujar Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti yang menghadiri upacara, teatrikal dan membuka pameran tersebut kepada media.

(isn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini