Sebagai sultahan di sebuah istana yang didominasi laki-laki, Safiatuddin memimpin dengan kebijaksanaan seorang perempuan. “Dia tidak menyukai perang, lebih mementingkan pendidikan dan penuh pertimbangan dalam mengelola keuangan kerajaan,” tambah Samsidar.
Sedangkan Empu Beru adalah satu-satunya perempuan di dalam Dewan Kerajaan yang berasal dari utusan Kerajaan Linge. Empu Beru telah menunjukkan kapasitas dan pemikirannya tentang hukum Islam dan hukum adat dalam memutuskan perkara pelik pembunuhan keluarga kerajaan yang dilakukan oleh Reje Linge XIV.
“Empu Beru mampu menjadikan kedua hukum itu sebagai hukum yang lebih adil dan mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar bagi perkembangan hukum di kemudian hari,” ujar Samsidar.
Sekretaris Eksekutif RPuK, Leila Juari mengatakan komik ini diterbitkan untuk mempermudah masyarakat khususnya generasi muda dalam mempelajari sejarah perempuan pemimpin Aceh.
“Kami akan terus meneliti dan menggali tentang perempuan pemimpin Aceh lainnya. Karena selama ini keterbatasan naskah dan referensi kepemimpinan perempuan di Aceh sering dimanfaatkan untuk merekayasa kedudukan perempuan di masa lalu," pungkas Leila.
(Risna Nur Rahayu)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.